Ahad, Mac 28, 2010
Syeikh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi, Keramatnya Boleh Menghidupkan dan Mematikan Orang

Syekh Muhammmad Baba as Samasiy adalah guru pertama kali dari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. yang telah mengetahui sebelumnya tentang akan lahirnya seseorang yang akan menjadi orang besar, yang mulia dan agung baik disisi Allah Swt. maupun dihadapan sesama manusia di desa Qoshrul Arifan yang tidak lain adalah Syekh Bahauddin.
Di dalam asuhan, didikan dan gemblengan dari Syekh Muhammad Baba inilah Syekh Muhammad Bahauddin mencapai keberhasilan di dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. sampai Syekh Muhammad Baba menganugerahinya sebuah “kopiah wasiat al Azizan” yang membuat cita-citanya untuk lebih dekat dan wusul kepada Allah Swt. semakin meningkat dan bertambah kuat. Hingga pada suatu saat, Syekh Muhammad Bahauddin Ra. melaksanakan sholat lail di Masjid. Dalam salah satu sujudnya hati beliau bergetar dengan getaran yang sangat menyejukkan sampai terasa hadir dihadapan Allah (tadhoru’). Saat itu beliau berdo’a, “Ya Allah berilah aku kekuatan untuk menerima bala’ dan cobaanya mahabbbah (cinta kepada Allah)”.
Setelah subuh, Syekh Muhammad Baba yang memang seorang waliyullah yang kasyaf (mengetahui yang ghoib dan yang akan terjadi) berkata kepada Syekh Bahauddin, “Sebaiknya kamu dalam berdo’a begini, “Ya Allah berilah aku apa saja yang Engkau ridloi”. Karena Allah tidak ridlo jika hamba-Nya terkena bala’ dan kalau memberi cobaan, maka juga memberi kekuatan dan memberikan kepahaman terhadap hikmahnya”. Sejak saat itu Syekh Bahauddin seringkali berdo’a sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Syekh Muhammad baba.
Untuk lebih berhasil dalam pendekatan diri kepada Sang Kholiq, Syekh Bahauddin seringkali berkholwat menyepikan hatinya dari keramaian dan kesibukan dunia. Ketika beliau berkholwat dengan beberapa sahabatnya, waktu itu ada keinginan yang cukup kuat dalam diri Syekh Bahauddin untuk bercakap-cakap. Saat itulah secara tiba-tiba ada suara yang tertuju pada beliau, “He, sekarang kamu sudah waktunya untuk berpaling dari sesuatu selain Aku (Allah)”. Setelah mendengar suara tersebut, hati Syekh Bahauddin langsung bergetar dengan kencangnya, tubuhnya menggigil, perasaannya tidak menentu hingga beliau berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Setelah merasa cukup tenang, Syekh Bahauddin menyiram tubuhnya lalu wudlu dan mengerjakan sholat sunah dua rokaat. Dalam sholat inilah beliau merasakan kekhusukan yang luar biasa, seolah-olah beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.
Saat Syekh Bahauddin mengalami jadzab1 yang pertama kali beliau mendengar suara, “Mengapa kamu menjalankan thoriq yang seperti itu ? “Biar tercapai tujuanku’, jawab Syekh Muhammad Bahauddin. Terdengar lagi suara, “Jika demikian maka semua perintah-Ku harus dijalankan. Syekh Muhammad Bahauddin berkata “Ya Allah, aku akan melaksanakan semampuku dan ternyata sampai 15 hari lamanya beliau masih merasa keberatan. Terus terdengar lagi suara, “Ya sudah, sekarang apa yang ingin kamu tuju ? Syekh Bahauddin menjawab, “Aku ingin thoriqoh yang setiap orang bisa menjalankan dan bisa mudah wushul ilallah”.
Hingga pada suatu malam saat berziarah di makam Syekh Muhammad Wasi’, beliau melihat lampunya kurang terang padahal minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang. Tak lama kemudian ada isyarat untuk pindah berziarah ke makam Syekh Ahmad al Ahfar Buli, tetapi disini lampunya juga seperti tadi. Terus Syekh Bahauddin diajak oleh dua orang ke makam Syekh Muzdakhin, disini lampunya juga sama seperti tadi, sampai tak terasa hati Syekh Bahauddin berkata, “Isyarat apakah ini ?”
Kemudian Syekh Bahauddin, duduk menghadap kiblat sambil bertawajuh dan tanpa sadar beliau melihat pagar tembok terkuak secara perlahan-lahan, mulailah terlihat sebuah kursi yang cukup tinggi sedang diduduki oleh seseorang yang sangat berwibawa dimana wajahnya terpancar nur yang berkilau. Disamping kanan dan kirinya terdapat beberapa jamaah termasuk guru beliau yang telah wafat, Syekh Muhammad Baba.
Salah satu dari mereka berkata, “Orang mulia ini adalah Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy dan yang lain adalah kholifahnya. Lalu ada yang menunjuk, ini Syekh Ahmad Shodiq, Syekh Auliya’ Kabir, ini Syekh Mahmud al Anjir dan ini Syekh Muhammad Baba yang ketika kamu hidup telah menjadi gurumu. Kemudian Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang dialami Syekh Muhammad Bahauddin, “Sesunguhnya lampu yang kamu lihat tadi merupakan perlambang bahwa keadaanmu itu sebetulnya terlihat kuat untuk menerima thoriqoh ini, akan tetapi masih membutuhkan dan harus menambah kesungguhan sehingga betul-betul siap. Untuk itu kamu harus betul-betul menjalankan 3 perkara :
1. Istiqomah mengukuhkan syariat.
2. Beramar Ma’ruf Nahi mungkar.
3. Menetapi azimah (kesungguhan) dengan arti menjalankan agama dengan mantap tanpa memilih yang ringan-ringan apalagi yang bid’ah dan berpedoman pada perilaku Rasulullah Saw. dan para sahabat Ra.
Kemudian untuk membuktikan kebenaran pertemuan kasyaf ini, besok pagi berangkatlah kamu untuk sowan ke Syekh Maulana Syamsudin al An-Yakutiy, di sana nanti haturkanlah kejadian pertemuan ini. Kemudian besoknya lagi, berangkatlah lagi ke Sayyid Amir Kilal di desa Nasaf dan bawalah kopiah wasiat al Azizan dan letakkanlah dihadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa, nanti beliau sudah tahu sendiri”.
Syekh Bahauddin setelah bertemu dengan Sayyid Amir Kilal segera meletakkan “kopiah wasiat al Azizan” pemberian dari gurunya. Saat melihat kopiah wasiat al Azizan, Sayyid Amir Kilal mengetahui bahwa orang yang ada didepannya adalah syekh Bahauddin yang telah diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Baba sebelum wafat untuk meneruskan mendidiknya.
Syekh Bahauddiin di didik pertama kali oleh Sayyid Amir Kilal dengan kholwat selama sepuluh hari, selanjutnya dzikir nafi itsbat dengan sirri. Setelah semua dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil, kemudian beliau disuruh memantapkannnya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu syariat, hadist-hadist dan akhlaqnya Rasulullah Saw. dan para sahabat. Setelah semua perintah dari Syekh Abdul Kholiq di dalam alam kasyaf itu benar–benar dijalankan dengan kesungguhan oleh Syekh Bahauddin mulai jelas itu adalah hal yang nyata dan semua sukses bahkan beliau mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Jadi toriqoh An Naqsyabandiy itu jalur ke atas dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy ke atasnya lagi dari Syekh Yusuf al Hamadaniy seorang Wali Qutub masyhur sebelum Syekh Abdul Qodir al Jailaniy. Syekh Yusuf al Hamadaniy ini kalau berkata mati kepada seseorang maka mati seketika, berkata hidup ya langsung hidup kembali, lalu naiknya lagi melalui Syekh Abu Yazid al Busthomi naik sampai sahabat Abu Bakar Shiddiq Ra. Adapun dzikir sirri itu asalnya dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al ghojdawaniy yang mengaji tafsir di hadapan Syekh Sodruddin. Pada saat sampai ayat, “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan cara tadhorru’ dan menyamarkan diri”...
Lalu beliau berkata bagaimana haqiqatnya dzikir khofiy /dzikir sirri dan kaifiyahnya itu ? jawab sang guru : o, itu ilmu laduni dan insya Allah kamu akan diajari dzikir khofiy. Akhirnya yang memberi pelajaran langsung adalah nabi Khidhir as.
Pada suatu hari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. bersama salah seorang sahabat karib yang bernama Muhammad Zahid pergi ke Padang pasir dengan membawa cangkul. Kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu berbicara tentang ma’rifat sampai datang dalam pembicaraan tentang ubudiyah “Lha kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman, matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja Syekh Muhammad Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!, Seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi sampai waktu dhuhur.
Melihat hal tersebut Syekh Muhammad Bahauddin Ra. menjadi kebingungan, apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham “He, Muhammad, berkatalah ahyi (hiduplah kamu). Kemudian Syekh Muhammad Bahauddin Ra. berkata ahyi sebanyak 3 kali, saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama kali Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Wali yang sangat mustajab do’anya.
Syekh Tajuddin salah satu santri Syekh Muhammad Bahauddin Ra berkata, “Ketika aku disuruh guruku, dari Qoshrul ‘Arifan menuju Bukhara yang jaraknya hanya satu pos aku jalankan dengan sangat cepat, karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku. Semenjak itu kekuatanku untuk terbang di cabut oleh Syekh Muhammad Bahauddin Ra, dan seketika itu aku tidak bisa terbang sampai saat ini”.
Berkata Afif ad Dikaroniy, “Pada suatu hari aku berziarah ke Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Lalu ada orang yang menjelek-jelekkan beliau. Aku peringatkan, kamu jangan berkata jelek terhadap Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan jangan kurang tata kramanya kepada kekasih Allah. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, lalu seketika itu ada serangga datang dan menyengat dia terus menerus. Dia meratap kesakitan lalu bertaubat, kemudian sembuh dengan seketika. Demikian kisah keramatnya Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Rodiyallah ‘anhu wa a’aada a‘lainaa min barokaatihi wa anwaarihi wa asroorihii wa ‘uluumihii wa akhlaaqihi allahuma amiin.
Sufyan Bin Uyainah, Kunikahi Dia Kerana Agamanya
Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al-Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gabenor
Menuntut Ilmu Dengan Ulama
Ketika ia meningkat usia 15 tahun, ayahnya memanggilnya, seraya berpesan: “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahawa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata kejelekan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati kesendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prsangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.
Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.
Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu agama. Tepatnya pada tahun 119H.
Ibnu Uyainah mengisahkan tentang dirinya: ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.
Dia menceritakan: ”Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.
Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak 80 ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinas, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.
Menjadi Sumber Rujukan
Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”
Tak sia-sia, berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi peribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi sumber rujukan dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.
Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Abu Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan isteriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.
Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala hairan dan kemudian berujar: ”Mungkin, keadaan itu muncul kerana engkau menikahainya untuk meraih kehormatan?”
Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Abu Muhammad”.
Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi kerana mencari kehormatan, nescaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, nescaya akan diuji dengan kefakiran. Barangsiapa bergerak kerana dorongan agama, nescaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama agamanya”.
Kunikahi Dia Kerana Agamanya
Berikutnya, Sufyan mulai berkisah:
”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah abang sulung., Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi kedudukannya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.
Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.
Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berdiskusi dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadis Yahya bin Ja’daj dan hadits Aisyah.
Hadis Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, iaitu sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
”Wanita dinikahi kerana empat perkara: Kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Carilah wanita yang beragama, nescaya kamu akan beruntung”.
Sedangkan hadis Aisyah, Nabi shallallahu alaIhi wa sallam bersabda :
Wanita yang paling besar berkahnya adalah wanita yang paling ringan beban pembiayaannya”
Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din dan beban yang ringan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alahi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.
Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al-Khaliq, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kata-Kata Hikmahya
Sufyan bin Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan: Wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.
Sufyan bin Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, perumpamaan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, nescaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.
Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata: ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan kejelekan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui kejelekan dan menjauhinya”.
Wafatnya
Sufyan bin Uyainah wafat pada hari Sabtu, 1 Rejab 198H.
Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di syurgaNya yang tertinggi.
(Terjemahan dari bahasa Indonesia oleh M.A.Uswah dengan sedikit perubahan)
Majalah As-Sunnah, Edisi 1426H/2005M, Indonesia yang diambil rujukannya dari Tahdzibul Kamal fi Asma-i ar Rijal (3/223-228) karya al-Hafiz Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf al-Mizzi, tahqiq Basyyar Awwad Ma’ruf, Muassasah ar-Risalah, Cetakan 1, 1418H–1998M
Ahad, Mac 28, 2010
Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, Zuhud Yang Berjiwa Sufi

Dilahirkan dalam keluarga yang mementingkan ilmu, tidak hairanlah minat membaca beliau terserlah sejak kecil lagi. Beliau gemar mengumpul kitab dan mempunyai satu sudut bacaan sendiri yang dinamakan sebagai Maktabah Abil Hasan Ali (Perpustakaan Abul Hasan Ali).
Sejak kecil juga Syeikh Abul Hasan telah didik dengan pelbagai ilmu pengetahuan meliputi bahasa Arab, nahu, syair, sastera Arab, tafsir, fiqh, hadis dan sebagainya. Ramai dikalangan gurunya datang dari
Sifat Peribadi
Peribadi Syeikh Abul Hasan sangat sederhana, zuhud, berlapang dada serta terpancar keikhlasan dakwahnya sehingga membuatkan beliau senang didampingi, tidak kira peringkat umur dan darjat seseorang manusia itu.
Beliau adalah seorang yang berperibadi zuhud dan tidak membezakan antara manusia dalam dakwahnya membuatkan ulama terkenal Mesir, Dr Yusuf al-Qaradhawi mengkagumi keperibadian beliau.
Dr Yusuf al-Qaradhawi berkata: "Saya mengenali keperibadiannya dan juga karya-karyanya. Saya mendapati pada dirinya hati seorang muslim yang sejati dan pemikiran Islam yang tulen. Saya mendapati beliau sentiasa hidup dengan Islam dan untuk Islam. Saya kira bukan saya seorang sahaja yang mencintainya tetapi semua orang yang mengenalinya pasti mencintainya, bahkan sesiapa yang lebih mengenalinya pasti akan bertambah kecintaan terhadapnya."
Dakwah dan Pendiriannya
Mencontohi pendekatan dakwah ulama’-ulama’ terdahulu seperti Imam As Sirhindi r.a dan Maulana Ilyas r.a, serta beberapa tokoh Islam yang agung, Syeikh Abul Hasan telah membawa suatu manhaj dakwah dan tarbiyah yang menyeluruh, dengan menggabung jalinkan beberapa manhaj dan pendekatan, menjadi suatu kombinasi di antara sistem lama yang berkat dengan sistem baru yang bermanfaat. Menurut beliau, kefahaman yang jitu terhadap dasar-dasar dakwah akan menjadikan seorang daie’ benar-benar berdakwah untuk Allah bukan untuk kepentingan peribadi atau selainnya. Prinsip yang perlu ada ialah berdakwah untuk kebaikan umat seluruhnya bukan untuk keuntungan kelompok atau diri sendiri. Dasar-dasar yang digariskan beliau dalam melaksanakan dakwah itu merupakan himpunan daripada dasar "At Tasallub Fi Al Usul" iaitu tegas pada prinsip dan "Al Murunah Fi Al Wasail" yakni anjal dalam perlaksanaan.
Usaha gigih Syeikh Abul Hasan dalam menyampaikan kalimah haq bukan sahaja dikagumi oleh dunia Islam malah mendapat pengiktirafan daripada masyarakat Barat khususnya di Eropah. Banyak undangan ceramah dan seminar yang beliau terima daripada institusi-institusi terkemuka di Eropah seperti di
An-Nadwi juga begitu peka dengan sistem pendidikan dan banyak mengkritik golongan orientalis yang menyelewengkan fakta sebenar mengenai Islam. Dari segi faktor keagamaan, tujuan orientalis adalah menyebarkan agama Kristian dan menonjolkannya lebih daripada agama Islam. Di samping itu, mereka
An-Nadwi telah memberi kritikan pedas terhadap golongan orientalis yang seharusnya direnung oleh pelajar-pelajar muslim yang lain. Beliau menyebut bahawa dengan mengakui sumbangan ilmu orientalis ini, tiada halangan baginya untuk menegaskan bahawa kaum orientalis ini sering tidak beroleh taufik dari Ilahi walaupun mereka banyak melakukan penyelidikan dan penggalian terhadap ilmu-ilmu al-Qur’an, sunnah, sirah nabi, feqah Islam, akhlak dan tasauf. Mereka hanya keluar dengan tangan hampa tanpa memperolehi apa-apa dari keimanan dan keyakinan. Sebaliknya didapati bertambah besar jurang yang memisahkan mereka dengan ilmu tersebut disebabkan oleh iktikad permusuhan yang terpendam dalam hati mereka. Tujuan mereka hanya ingin mencari kelemahan tentang Islam dan mengemukakannya untuk maksud politik mahupun keagamaan.
Menurut an-Nadwi, umat Islam sekarang menghadapi kejumudan pemikiran atau mendapnya kecerdasan akal yang menimpa sarjana Islam atau pusat-pusat pengajian Islam semenjak waktu yang lama. Begitu juga, jarang ditemui ulama yang dapat meyakinkan generasi muda mengenai keunggulan Islam dan keabdian ajaran agama untuk mereka melayari kehidupan serta menyingkap takbir kelemahan-kelemahan peradaban barat dan sorotan yang ilmiah dan analisa yang teliti.
Beliau turut menggariskan beberapa faktor yang menyebabkan fahaman ini dapat menawan jiwa orang-orang Islam. Antaranya ialah pertamanya kelemahan orang Islam dari sudut keimanan, ijtihad dan ilmu pengetahuan. Fikiran menjadi sempit dan keghairahan terhadap agama mereka telah lenyap sama sekali. Keduanya para ulama tidak memainkan peranan yang sebenar dan tidak pula berusaha untuk memimpin orang Islam lain terutama anak-anak muda Islam. Ketiganya penjajahan yang berlaku ke atas negara-negara umat Islam. Orang-orang Islam mengkagumi falsafah barat yang dianggap mengandungi kebenaran dan kemajuan.
An-Nadwi berpendapat bahawa jalan yang paling selamat dalam mendidik umat Islam ialah kembali beriman kepada Alllah sebagaimana Rasulullah dahulu telah melaksanakannya dengan begitu berkesan. Kemungkaran dan kerosakan adalah berpunca dari keengganan manusia untuk kembali kepada penawar dan rawatan nubuwwah. Hanya dengan kembali kepada bentuk didikan di atas sahajalah manusia masa kini dapat diselamatkan sebagaimana manusia pada zaman dahulu diselamatkan oleh Rasulullah. Oleh itu, beliau menyarankan umat Islam kembali kepada acuan madrasah kerasulan.
An-Nadwi menggunakan manhaj dakwah dengan berteraskan kepada al-Quran kemudian hadith dan sirah serta kisah-kisah para sahabat. Ini jelas terbukti dalam bukunya Rawa’i min adab al-da’wah yang mana beliau mengambil contoh-contoh dakwah para nabi-nabi yang bersumberan al-Quran dan al-Hadith.Di samping itu, beliau mengakui manhaj itu mungkin berbeza dari satu tempat dari satu tempat yang lain kerama dakwah mesilah mengambil kira masalah lingkungan , sausana dan persekitaran. Oleh itu, dakwah yang berkesan ialah dakwah yang mengambilkira realiti yang ada. Di samping itu, pendekatan hikmah dan bijaksana perlu diberi perhatian.al-Nadwi juga menyarankan memahami al-Quran dengan mendalam, sejarah dakwah dan tokoh-tokoh dakwah serta adab-adab Islam. Kebanyakan bidang tersebut telah ditulisnya untuk penyediaan kepada para pendakwah.
Karya Yang Membuka Mata Dunia
Siapa yang tidak terkesan bila mana membaca karya agung beliau berjudul "Apakah Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam" yang pernah pada suatu ketika menggoncang hati para pemimpin dan ulama’ di dunia Arab. Hingga sekarang karya yang berusia lebih 50 tahun itu, tetap menjadi rujukan umat seluruh dunia malah telah diterbitkan dalam berbagai-bagai bahasa seperti Inggeris, Parsi, Urdu, Arab, Hindi, Melayu dan lain-lain. Beliau telah berjaya membuka pandangan sempit pemimpin dunia Islam yang menganggap bahawa kekayaan material yang dimiliki oleh masyarakat Eropah adalah segala-galanya sedangkan mereka di
Dijemput Ilahi
Setelah hampir tiga suku usianya dihabiskan dengan perjalanan ilmu dan dakwah, menyeru umat Islam agar kembali teguh kepada al-Quran dan sunnah, maka pada tengah hari Jumaat, 23 Ramadhan 1420H / 31 Disember 1999M, beliau telah dijemput Allah SWT pulang ke sisiNya ketika sedang bersiap-siap untuk menghadiri solat Jumaat di kediamannya, ketika usianya mencecah 85 tahun. Sebagai mengenang jasa beliau yang telah dicurahkan untuk kepentingan agama, maka telah diadakan solat jenazah ghaib di dua tanah suci iaitu di Masjidil Haram di Makkah al Mukarramah dan di Masjid Nabawi di Madinah al Munawwarah pada malam 27 Ramadhan 1420H.
Pemergiannya dirasakan sebagai suatu kehilangan permata yang amat berharga. Perjuangan dakwahnya yang tidak mengenal noktah itu, seharusnya menjadi contoh dan ikutan oleh generasi kini. Beliau pernah berpesan kepada generasi muda bahawa belia-belia Islam yang bakal memimpin umat pada masa akan datang sangat perlu diisikan dengan ilmu, tazkiyah ruhiyah, semangat juang dan sifat zuhud dari dunia. Kalau tidak, akan dibimbangi mereka akan kecundang dalam menghadapi cabaran akhir zaman. Kepetahan lidah dalam berucap dan keluasan ilmu belum dapat memberi kesan yang terbaik kalau tidak disertai dengan kekuatan rohani yang mantap.
Selamat jalan wahai mujahid. Semoga Allah SWT mencucuri rahmat yang luas ke atasmu dan semoga engkau bersama-sama dengan para anbiya’, auliya’ dan para kekasih Allah. Amin.
M.A.Uswah,
20 Oktober 2008.
- Majalah Al-Islam, bulan Januari 2005.
- http://imamdesa.blogsome.com/2006/06/14/11
- http://www.mindamadani.my/content/view/178/2
Ahad, Mac 28, 2010
Ibnu Hazm, Ulama Yang Sibuk Bercinta
Ketika isterinya yang lebih muda darinya itu meninggal dunia, ia larut dalam kesedihan dan menangis berbulan-bulan, walaupun seperti pengakuannya ia adalah orang yang sulit mencucurkan air mata.
Ia jatuh sakit sekian lama, bahkan kehilangan sebahagian ingatannya, walaupun kemudian sembuh.
“Demi Allah, hingga kini aku tidak pernah lagi merasa bahagia. Kehidupan setelah kepergiannya tidak nyaman lagi. Aku terus mengenangnya dan tidak lagi menemukan kesenangan dari selainnya.”
Sekali lagi, dengan demikian, Ibnu Hazm sendiri sibuk dalam cinta sepanjang hidupnya, sebagaimana ia disibukkan oleh ilmu-ilmu agama semacam fiqih (hukum Islam), tafsir, hadis dan teologi, bukan hanya perempuan sebagaimana tulisnya.
Ibnu Hazm menulis bahawa, “Cinta awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Dia tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya, syariat pun tidak melarangnya.”
“Ketika masih remaja, aku jatuh cinta kepada seorang gadis berambut pirang. Sejak itu aku tidak mengagumi gadis berambut hitam, meski pemiliknya berada di matahari atau sangat molek. Itu kecenderunganku sejak saat itu. Diriku tidak pernah mengagumi lagi kecuali rambut pirang. Itu pula kecenderungan ayahku.”
Kalimat di atas merupakan pengakuan filosof dan ulama besar dunia, Ibnu Hazm. Lewat karyanya yang berjudul Tauqul Hamamah (Di Bawah Naungan Cinta). Ibnu Hazm berhasil menjadikan dirinya sasterawan yang cukup disegani. Bukunya ini menjadi buku terlaris sepanjang abad pertengahan. Buku itu tidak hanya menarik bagi umat Islam, tetapi juga bagi kaum Nasrani di Eropah.
Padahal Ibnu Hazm dikenal sebagai salah satu ulama tersohor di abad pertengahan. Ayahnya dikenal sebagai salah seorang menteri pada zaman Khalifah al-Manshur.
Menurut penuturan Ibnu Hazm, cinta pertamanya bersemi ketika ia berusia 18 tahun. Sementara gadis pujaannya yang berambut pirang berumur 16 tahun. Gadis itu dikaguminya sampai habis. Ia mengatakan bahawa pujaannya itu seorang yang cantik, bertabiat baik, dan bertubuh sintal. Si gadis pun pandai bernyanyi dan memetik kecapi, yang menjadi kebiasaan kala itu.
Ibnu Hazm tergila-gila. Setiap hari selalu menanti gadis itu lewat di depan pintu rumahnya. Begitu gadis itu muncul, Ibnu Hazm langsung menguntitnya. Seperti kisah remaja pada umumnya, kisah cinta Ibnu Hazm penuh dengan romantika. Jika dikejar, si gadis berlalu dengan malu-malu dan rona wajahnya memerah. Tentang perilakunya yang terbuai itu Ibnu Hazm menulis, “Saya ingat benar bagaimana ketika saya selalu pergi ke ruangan tempat ia tinggal. Rasanya saya selalu ingin menuju pintu itu agar bisa dekat dengannya. Begitu ia melihat saya di dekat pintu, dengan gerakan lemah gemulai ia pergi ke tempat lain. Saya pun menguntitnya sampai ke pintu ruangan tempat ia berada.”
Ibnu Hazm, sebagaimana semua ulama dan agamawan, menyatakan bahawa cinta yang terbesar adalah cinta kepada Allah dan cinta antara sesama manusia yang dijalin kerana Allah swt. Cinta antara sesama manusia, antara lain cinta antara lawan jenis, jika terjalin kerana Allah, pasti diliputi oleh kesetiaan dan kesucian.
Ibnu Hazm al-Andalusi, seorang pakar hukum Islam menulis pengalaman peribadinya antara lain: “Seandainya bukan kerana keyakinan bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan negeri kekeruhan, sedangkan syurga adalah tempat peroleh ganjaran, kita akan berkata bahawa hubungan harmonis antara kekasih merupakan kebahagiaan tanpa kekeruhan, kegembiraan tanpa kesedihan, kesempurnaan cinta dan puncak harapan.”
Selanjutnya, ulama besar itu berkata: “Aku telah merasakan kelazatan dengan aneka ragamnya. Aku juga telah meraih keberuntungan dengan segala macamnya. Tidaklah kedekatan kepada penguasa, tidak juga wujud setelah ketiadaan, atau kembali ke pangkuan setelah bepergian jauh, dan tidak juga rasa aman setelah mengalami rasa takut, atau perolehan harta yang dimanfaatkan, tidaklah semua itu, seindah hubungan harmonis/asmara dengan kekasih/lawan jenis kita.
Memandang Cinta
Menurut Ibnu Hazm, cinta itu sulit diuraikan. Tetapi pada orang yang jatuh cinta terdapat pertanda.
Pertama, kecanduan memandang orang yang dikasihi.
Kedua, segera menuju ke tempat kekasih berada, sengaja duduk di dekatnya dan mendekatinya.
Ketiga, gelisah dan gugup ketika ada seseorang yang mirip dengan orang yang dicintainya.
Keempat, kesediaan untuk melakukan hal-hal yang sebelumya enggan dilakukannya
Cinta Di Mata Seorang Ulama
Akan menghinalah mereka yang tak mengenal cinta
Sungguh cintamu padanya wajar adanya
Mereka kata, cinta buat kau gila
Padahal kau orang paling faham agama
Ku katakan pada mereka
Mengapa kalian iri padanya?
Jawabnya
Kerana ia mencinta dan dicintai pujaan jiwa
Bila masanya Muhammad mengharamkan cinta
Dan apakah ia menghina umatnya yang jatuh cinta
Janganlah kau berlagak mulia
Dengan menyebut cinta sebagai dosa
Janganlah kau pedulikan apa kata orang tentang cinta
Entah yang berkata keras atau halus biasa
Bukankah manusia harus menetapi pilihannya
Bukankah kata tersembunyi tak bererti diam seribu bahasa
Selasa, Oktober 14, 2008
Buah Cinta Berasas Takwa
Dulu, Mubarak itu seorang hamba. Tuannya memerdekakannya kerana keluhuran pekerti dan kejujurannya. Setelah merdeka ia bekerja pada seorang kaya raya yang memiliki kebun delima yang cukup luas. Ia bekerja sebagai penjaga kebun itu. Keramahan dan kehalusan tutur sapanya, membuatnya disenangi semua temannya dan penduduk di sekitar kebun.
“Maafkan saya Tuan, saya sama sekali belum pernah merasakan delima. Bagaimana saya boleh merasakan yang manis dan yang kecut,” jawab Mubarak.
“Apa? Kamu sudah sekian tahun bekerja di weesini dan menjaga kebun delima yang luas yang telah berpuluh kali berbuah dan kau katakan belum merasakan delima. Kau berani berkata seperti itu!” Pemilik kebun itu marah merasa dipermainkan.
“Demi Allah Tuan, saya tidak pernah memetik satu butir buah delima pun. Bukankah anda hanya memerintahkan saya menjaganya dan tidak memberi izin pada saya untuk memakannya?” lirih Mubarak.
Mendengar ucapan itu pemilik kebun itu tersentak. Namun ia tidak langsung percaya begitu saja. Ia lalu pergi bertanya kepada teman-teman Mubarak dan tetangga disekitarnya tentang kebenaran ucapan Mubarak. Teman-temannya mengakui tidak pernah melihat Mubarak makan buah delima. Juga tetangganya.
Seorang temannya bersaksi: “Ia seorang yang jujur, selama ini tidak pernah berbohong. Jika ia tidak pernah makan satu buah pun sejak bekerja disini bererti itu benar.”
***
Kejadian itu benar-benar menyentuh hati sang pemilik kebun. Diam-diam ia kagum dengan kejujuran pekerjanya itu.
Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali memanggil Mubarak:
“Mubarak, sekali lagi, apakah benar kau tidak makan satu buah pun selama menjaga kebun ini?”
“Benar Tuan.”
“Berilah aku alasan yang boleh aku terima!”
“Aku tidak tahu apakah Tuan akan menerima penjelasanku apa tidak. Saat aku pertama kali datang untuk bekerja menjaga kebun ini, Tuan mengatakan tugas saya hanya menjaga. Itu aqadnya. Tuan tidak mengatakan aku boleh merasakan delima yang aku jaga. Selama ini aku menjaga agar perutku tidak dimasuki makanan yang syubhat apalagi haram. Bagiku kerana tidak ada izin yang jelas dari Tuan, maka aku tidak boleh memakannya.”
“Meskipun itu delima yang jatuh di tanah, Mubarak?”
“Ya, meskipun delima yang jatuh ditanah. Sebab itu bukan milikku, tidak halal bagiku. Kecuali jika pemiliknya mengizinkan aku boleh memakannya.”
Kedua mata pemilik kebun itu berkaca-kaca. Ia sangat tersentuh dan terharu. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan dan berkata,
“Hai Mubarak, aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurutmu aku mengahwinkannya dengan siapa?”
Mubarak menjawab:
“Orang-orang Yahudi mengahwinkan anaknya dengan seseorang kerana harta. Orang Nasrani mengahwinkan kerana keindahan. Dan orang Arab mengahwinkan kerana nasab dan keturunannya. Sedangkan orang Muslim mengahwinkan anaknya pada seseorang kerana melihat iman dan taqwanya. Anda tinggal memilih, mahu masuk golongan yang mana? Dan kahwinkanlah puterimu dengan orang yang kau anggap satu golongan denganmu.”
Pemilik kebun berkata: ”Aku rasa tak ada orang yang lebih bertakwa darimu.”
Akhirnya pemilik kebun itu mengahwinkan puterinya dengan Mubarak. Puteri pemilik kebun itu ternyata gadis cantik yang solehah dan cerdas. Ia hafal kitab Allah dan mengerti sunnah NabiNya. Dengan kejujuran dan ketaqwaan, Mubarak memperoleh nikmat yang agung dari Allah SWT. Ia hidup dalam syurga cinta. Dari percintaan pasangan mulia itu lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama “Abdullah”. Setelah dewasa anak ini dikenal dengan sebutan “Imam Abdullah bin Mubarak” atau “Ibnu Mubarak”, seorang ulama di kalangan tabi’in yang sangat terkenal. Selain dikenali sebagai ahli hadis, Imam Abdullah bin Mubarak juga dikenali sebagai ahli zuhud. Kedalaman ilmu dan ketaqwaannya banyak diakui ulama pada zamannya.
Di Atas Sajadah Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, terbitan Ar-Risalah Product Sdn Bhd, Kuala Lumpur, cetakan ketiga Mei 2008.
Ahad, Mac 28, 2010
Imam Nawawi, Makan Sedikit, Tidur Pun Sedikit
Terbukti budak lelaki itu bukanlah seorang insan biasa, tetapi Abu Zakaria Muhyiddin Yahya atau lebih dikenali sebagai Imam Nawawi. Nama tersebut digunakan kerana beliau berasal dari Nawa, yang terletak berdekatan Damsyik, di pinggir daerah Hauran.
Imam Nawawi dilahirkan di
Menimba Ilmu
Jadi bapanya membawa Imam Nawawi ke Damsyik yang ketika itu terkenal sebagai pusat pengajian dan ilmu, serta menjadi tumpuan pelajar dari serata tempat. Damsyik sudah pun mempunyai lebih 300 institut, kolej dan universiti dan Imam Nawawi belajar di Madrasah Rawahiyah yang bergabung dengan Universiti Ummvi. Pengasasnya ialah seorang saudagar bernama Zakiuddin Abul Qassim, yang juga dikenali Ibnu Rawahah.
Di madrasah inilah Imam Nawawi menimba ilmu daripada guru-guru terkenal selama dua tahun tanpa mengenal penat lelah. Pihak madrasah hanya menampung sedikit makan minumnya, tetapi itu sudah mencukupi bagi Imam Nawawi. Itu bukanlah satu keperluan yang amat dipentingkannya, malah tidur pun dihadkan sedikit sahaja pada waktu malam. Baginya masa adalah sesuatu yang amat berharga, apabila keletihan, dia akan berehat sebentar sahaja di hadapan kitab-kitabnya, sebelum meneruskan pelajarannya.
Guru-Guru Beliau
Di Damsyik, Imam Nawawi berguru dengan lebih 20 ulama. Sesetengah mereka terkenal sebagai pakar dalam bidang masing-masing. Beliau mempelajari ilmu hadis, perundangan Islam dan pelbagai ilmu lain daripada ulama-ulama terkenal waktu itu, antaranya, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Maghribi, Abu Muhammad Abdurrahman bin Ibrahim al-Fazari, Abul-Abbas Ahmad bin Salim al-Misri, Abu Abdullah al-Jiyani, Abu Muhammad at-Tanukhi dan ramai lagi.
Sifat Peribadi
Sikap Imam Nawawi terhadap ilmu memang jarang terdapat pada orang lain. Beliau sentiasa dahagakan ilmu dan dalam amalan seharian, dia akan membaca 12 bab, menulis ulasannya dan membuat penambahan-penambahan penting. Apa jua buku yang ditelaahnya, dia akan membuat nota dan penerangan mengenainya.
Sikap ini, kecerdikan, usaha keras dan kecintaannya terhadap pelajaran mendapat pujian daripada gurunya. Mana tidaknya, beeliau memperuntukkan sepenuh masanya untuk mendalami ilmu. Selain membaca dan menulis, beliau memperuntukkan masa untuk berfikir mengenai isu-isu yang kompleks dan mencari rumusannya.
Kelebihan daya ingatan tinggi dan ketajaman fikiran yang dikurniakan Allah SWT kepadanya digunakan sepenuhnya oleh Imam Nawawi sehingga mencapai tahap keilmuan yang amat membanggakan.
Selain itu, beliau juga disenangi kerana keindahan budi dan akhlak, serta dikenali sebagai seorang yang warak. Imam Nawawi gemar berpakaian sederhana dan hanya mekan sedikit sahaja. Beliau tidak mudah leka dengan hal-hal keduniaan sebaliknya memberi sepenuh tumpuan untuk mencari dan menyebarkan ilmu. Bagaimanapun Imam Nawawi tidak menjauhkan diri daripada masyarakat, malah beliau mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan ilmuan pada zamannya.
Beliau seorang yang begitu bertaqwa menurut erti kata sepenuhnya, wara’nya dan kebersihan jiwanya. Seorang ulama yang amatlah sukar ditemui.
Tiga kualiti yang dimilikinya menyebabkan Imam Nawawi menjadi ulama rujukan ketika itu, keilmuan tinggi dan kesediaan menyampaikannya, tidak cenderung dengan hal-hal keduniaan, dan sentiasa mengamalkan yang makruf dan mencegah kemungkaran.
Murid-Murid Beliau
Di antara murid-murid beliau ialah Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari, Ahmad bin Farah al-Isybili, Ali bin Ibrahim Ibnul Atthar, Syamsuddin bin Naqib, Syamsuddin bin Ja’wan dan yang lainnya.
Di Antara Keadaan-Keadaan Beliau
Ibnu Atthar berkata, “Guru kami an-Nawawi menceritakan kepadaku bahawa beliau tidak pernah sama sekali menyia-nyiakan waktu, tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan di jalan pun beliau terus dalam menelaah dan menghafal.”
Fatwa Imam Nawawi Yang Menggemparkan
Menurut riwayat bahawa apabila baginda Sultan al-Malik al-Zahir telah mengadakan persiapan perang untuk memerangi orang-orang Tatar (Monggol) lalu digunakanlah fatwa ulama yang mengharuskan mengambil harta rakyat untuk kepentingan perang melawan musuh. Ulama fiqh Syria telah menulis menerangkan fatwa tersebut, tetapi baginda belum merasa senang hati kalau imam Nawawi tidak memberi fatwanya. Lalu baginda bertitah “Masih adakah lagi orang lain.” “Masih ada, Syeikh Muhyiddin an-Nawawi,” demikian jawapan yang disampaikan kepada baginda.
Kemudian baginda menjemput Imam Nawawi dan meminta beliau memberi fatwanya bersama ulama fiqh mengenai pengambilan harta rakyat untuk peperangan. Beliau berterus terang tidak mahu memberi fatwanya dan enggan. Baginda bertanya: “Apakah sebabnya kamu enggan?” Lalu beliau memberi penjelasan mengapa beliau terpaksa menerangkan sikapnya dan keenggannya memfatwakan sama seperti para ulama.
Beliau dalam penjelasan kepada baginda menerangkan seperti berikut:
“Ampun Tuanku! Adalah patik sememangnya mengetahui dengan sesungguhnya bahwasanya tuanku adalah dahulunya seorang tawanan tidak ada sebarang harta benda. Tetapi pertolongan Allah telah dilimpahkan kurnianya kepada tuanku dengan dijadikan tuanku seorang raja. Ampun Tuanku! Adalah patik telah mendengar bahawanya tuanku ada memiliki seribu orang hamab tiap-tiap seorang ada mempunyai beberapa ketul emas. Manakala dua ratus orang khadam wanita milik tunaku, masing-masing mempunyai perhiasan yang bernilai. Andaikata tuanku sendirian membelanjakan kesemua itu untuk keperluan pernag sehingga mereka tidak lagi mempunyai barang-barang itu, maka patik bersedia memberi fatwa untuk membenarkan tuanku mengambil harta rakyat.”
Kesimpulannya, beliau berfatwa tidak membenarkan baginda mengambil harta rakyat selama kekayaannya sendiri masih dapat dipergunakan. Baginda al-Malik al-Zahir murka kepadanya kerana fatwanya yang amat menggemparkan sehingga baginda mengeluarkan perintah supaya beliau segera keluar dari Damsyik. Imam Nawawi terima saja perintah pengusirannya itu dengan nada yang tenang. Lalu beliau pun keluar ke Nawa. Para ulama
Beliau bukanlah seorang ulama yang mencari kebenaran untuk dirinya sahaja, beliau hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menjual ilmu yang dimiliki dengan harta benda dunia. Beliau mencurahkan ilmu kepada masyarakat umat. Beliau memimpin umat bukan umat yang memimpin beliau. Mengeluarkan fatwa tanpa memandang sesiapa, walaupun fatwanya itu meyusahkan kedudukannya. Inilah contoh ulama pewaris nabi (warisatul anbiya).
Karya-Karya Beliau
Di antara tulisan-tulisan beliau dalam bidang ilmu hadis ialah Syarah Sahih Muslim, Al-Adzkar, Arbain, Syarah Sahih Bukhari, Syarah Sunan Abi Daud dan yang terkenal, Riyadus Shalihin.
Di antara tulisan-tulisan beliau dalam bidang fiqh ialah Raudhatu Thalibin, al-Umdah fi Tashhihi Tanbih dan Majmu Syarah Muhadzdzab.
Di antara tulisan-tulisan beliau dalam bidang ilmu al-Quran ialah at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran.
Wafat Beliau
Susunan:
M.A.Uswah,
12 Oktober 2008.
- Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyyah tulisan Abu Aisyah Arif Fathul Ulum, terbitan Media Tarbiyah,
- Majalah Al-Islam, bulan April 2007.
- Hadis Empat Puluh terbitan Dewan Pustaka Fajar.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan