Sabtu, 27 Mac 2010

mari mengenali ulama' silam

Ahad, Mac 28, 2010

Syeikh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi, Keramatnya Boleh Menghidupkan dan Mematikan Orang

Syeikh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi adalah seorang wali qutub yang masyhur hidup pada tahun 717-791 H di desa Qoshrul ‘Arifan, Bukhara, Rusia. Beliau adalah pendiri Tariqah Naqsyabandiyah sebuah tariqah yang sangat terkenal dengan pengikut sampai jutaan jama’ah dan tersebar sampai ke Indonesia hingga saat ini.

Syekh Muhammmad Baba as Samasiy adalah guru pertama kali dari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. yang telah mengetahui sebelumnya tentang akan lahirnya seseorang yang akan menjadi orang besar, yang mulia dan agung baik disisi Allah Swt. maupun dihadapan sesama manusia di desa Qoshrul Arifan yang tidak lain adalah Syekh Bahauddin.

Di dalam asuhan, didikan dan gemblengan dari Syekh Muhammad Baba inilah Syekh Muhammad Bahauddin mencapai keberhasilan di dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. sampai Syekh Muhammad Baba menganugerahinya sebuah “kopiah wasiat al Azizan” yang membuat cita-citanya untuk lebih dekat dan wusul kepada Allah Swt. semakin meningkat dan bertambah kuat. Hingga pada suatu saat, Syekh Muhammad Bahauddin Ra. melaksanakan sholat lail di Masjid. Dalam salah satu sujudnya hati beliau bergetar dengan getaran yang sangat menyejukkan sampai terasa hadir dihadapan Allah (tadhoru’). Saat itu beliau berdo’a, “Ya Allah berilah aku kekuatan untuk menerima bala’ dan cobaanya mahabbbah (cinta kepada Allah)”.
Setelah subuh, Syekh Muhammad Baba yang memang seorang waliyullah yang kasyaf (mengetahui yang ghoib dan yang akan terjadi) berkata kepada Syekh Bahauddin, “Sebaiknya kamu dalam berdo’a begini, “Ya Allah berilah aku apa saja yang Engkau ridloi”. Karena Allah tidak ridlo jika hamba-Nya terkena bala’ dan kalau memberi cobaan, maka juga memberi kekuatan dan memberikan kepahaman terhadap hikmahnya”. Sejak saat itu Syekh Bahauddin seringkali berdo’a sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Syekh Muhammad baba.

Untuk lebih berhasil dalam pendekatan diri kepada Sang Kholiq, Syekh Bahauddin seringkali berkholwat menyepikan hatinya dari keramaian dan kesibukan dunia. Ketika beliau berkholwat dengan beberapa sahabatnya, waktu itu ada keinginan yang cukup kuat dalam diri Syekh Bahauddin untuk bercakap-cakap. Saat itulah secara tiba-tiba ada suara yang tertuju pada beliau, “He, sekarang kamu sudah waktunya untuk berpaling dari sesuatu selain Aku (Allah)”. Setelah mendengar suara tersebut, hati Syekh Bahauddin langsung bergetar dengan kencangnya, tubuhnya menggigil, perasaannya tidak menentu hingga beliau berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Setelah merasa cukup tenang, Syekh Bahauddin menyiram tubuhnya lalu wudlu dan mengerjakan sholat sunah dua rokaat. Dalam sholat inilah beliau merasakan kekhusukan yang luar biasa, seolah-olah beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.

Saat Syekh Bahauddin mengalami jadzab1 yang pertama kali beliau mendengar suara, “Mengapa kamu menjalankan thoriq yang seperti itu ? “Biar tercapai tujuanku’, jawab Syekh Muhammad Bahauddin. Terdengar lagi suara, “Jika demikian maka semua perintah-Ku harus dijalankan. Syekh Muhammad Bahauddin berkata “Ya Allah, aku akan melaksanakan semampuku dan ternyata sampai 15 hari lamanya beliau masih merasa keberatan. Terus terdengar lagi suara, “Ya sudah, sekarang apa yang ingin kamu tuju ? Syekh Bahauddin menjawab, “Aku ingin thoriqoh yang setiap orang bisa menjalankan dan bisa mudah wushul ilallah”.

Hingga pada suatu malam saat berziarah di makam Syekh Muhammad Wasi’, beliau melihat lampunya kurang terang padahal minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang. Tak lama kemudian ada isyarat untuk pindah berziarah ke makam Syekh Ahmad al Ahfar Buli, tetapi disini lampunya juga seperti tadi. Terus Syekh Bahauddin diajak oleh dua orang ke makam Syekh Muzdakhin, disini lampunya juga sama seperti tadi, sampai tak terasa hati Syekh Bahauddin berkata, “Isyarat apakah ini ?”

Kemudian Syekh Bahauddin, duduk menghadap kiblat sambil bertawajuh dan tanpa sadar beliau melihat pagar tembok terkuak secara perlahan-lahan, mulailah terlihat sebuah kursi yang cukup tinggi sedang diduduki oleh seseorang yang sangat berwibawa dimana wajahnya terpancar nur yang berkilau. Disamping kanan dan kirinya terdapat beberapa jamaah termasuk guru beliau yang telah wafat, Syekh Muhammad Baba.

Salah satu dari mereka berkata, “Orang mulia ini adalah Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy dan yang lain adalah kholifahnya. Lalu ada yang menunjuk, ini Syekh Ahmad Shodiq, Syekh Auliya’ Kabir, ini Syekh Mahmud al Anjir dan ini Syekh Muhammad Baba yang ketika kamu hidup telah menjadi gurumu. Kemudian Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang dialami Syekh Muhammad Bahauddin, “Sesunguhnya lampu yang kamu lihat tadi merupakan perlambang bahwa keadaanmu itu sebetulnya terlihat kuat untuk menerima thoriqoh ini, akan tetapi masih membutuhkan dan harus menambah kesungguhan sehingga betul-betul siap. Untuk itu kamu harus betul-betul menjalankan 3 perkara :

1. Istiqomah mengukuhkan syariat.
2. Beramar Ma’ruf Nahi mungkar.
3. Menetapi azimah (kesungguhan) dengan arti menjalankan agama dengan mantap tanpa memilih yang ringan-ringan apalagi yang bid’ah dan berpedoman pada perilaku Rasulullah Saw. dan para sahabat Ra.

Kemudian untuk membuktikan kebenaran pertemuan kasyaf ini, besok pagi berangkatlah kamu untuk sowan ke Syekh Maulana Syamsudin al An-Yakutiy, di sana nanti haturkanlah kejadian pertemuan ini. Kemudian besoknya lagi, berangkatlah lagi ke Sayyid Amir Kilal di desa Nasaf dan bawalah kopiah wasiat al Azizan dan letakkanlah dihadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa, nanti beliau sudah tahu sendiri”.

Syekh Bahauddin setelah bertemu dengan Sayyid Amir Kilal segera meletakkan “kopiah wasiat al Azizan” pemberian dari gurunya. Saat melihat kopiah wasiat al Azizan, Sayyid Amir Kilal mengetahui bahwa orang yang ada didepannya adalah syekh Bahauddin yang telah diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Baba sebelum wafat untuk meneruskan mendidiknya.

Syekh Bahauddiin di didik pertama kali oleh Sayyid Amir Kilal dengan kholwat selama sepuluh hari, selanjutnya dzikir nafi itsbat dengan sirri. Setelah semua dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil, kemudian beliau disuruh memantapkannnya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu syariat, hadist-hadist dan akhlaqnya Rasulullah Saw. dan para sahabat. Setelah semua perintah dari Syekh Abdul Kholiq di dalam alam kasyaf itu benar–benar dijalankan dengan kesungguhan oleh Syekh Bahauddin mulai jelas itu adalah hal yang nyata dan semua sukses bahkan beliau mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Jadi toriqoh An Naqsyabandiy itu jalur ke atas dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy ke atasnya lagi dari Syekh Yusuf al Hamadaniy seorang Wali Qutub masyhur sebelum Syekh Abdul Qodir al Jailaniy. Syekh Yusuf al Hamadaniy ini kalau berkata mati kepada seseorang maka mati seketika, berkata hidup ya langsung hidup kembali, lalu naiknya lagi melalui Syekh Abu Yazid al Busthomi naik sampai sahabat Abu Bakar Shiddiq Ra. Adapun dzikir sirri itu asalnya dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al ghojdawaniy yang mengaji tafsir di hadapan Syekh Sodruddin. Pada saat sampai ayat, “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan cara tadhorru’ dan menyamarkan diri”...

Lalu beliau berkata bagaimana haqiqatnya dzikir khofiy /dzikir sirri dan kaifiyahnya itu ? jawab sang guru : o, itu ilmu laduni dan insya Allah kamu akan diajari dzikir khofiy. Akhirnya yang memberi pelajaran langsung adalah nabi Khidhir as.

Pada suatu hari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. bersama salah seorang sahabat karib yang bernama Muhammad Zahid pergi ke Padang pasir dengan membawa cangkul. Kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu berbicara tentang ma’rifat sampai datang dalam pembicaraan tentang ubudiyah “Lha kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman, matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja Syekh Muhammad Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!, Seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi sampai waktu dhuhur.

Melihat hal tersebut Syekh Muhammad Bahauddin Ra. menjadi kebingungan, apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham “He, Muhammad, berkatalah ahyi (hiduplah kamu). Kemudian Syekh Muhammad Bahauddin Ra. berkata ahyi sebanyak 3 kali, saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama kali Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Wali yang sangat mustajab do’anya.

Syekh Tajuddin salah satu santri Syekh Muhammad Bahauddin Ra berkata, “Ketika aku disuruh guruku, dari Qoshrul ‘Arifan menuju Bukhara yang jaraknya hanya satu pos aku jalankan dengan sangat cepat, karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku. Semenjak itu kekuatanku untuk terbang di cabut oleh Syekh Muhammad Bahauddin Ra, dan seketika itu aku tidak bisa terbang sampai saat ini”.

Berkata Afif ad Dikaroniy, “Pada suatu hari aku berziarah ke Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Lalu ada orang yang menjelek-jelekkan beliau. Aku peringatkan, kamu jangan berkata jelek terhadap Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan jangan kurang tata kramanya kepada kekasih Allah. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, lalu seketika itu ada serangga datang dan menyengat dia terus menerus. Dia meratap kesakitan lalu bertaubat, kemudian sembuh dengan seketika. Demikian kisah keramatnya Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Rodiyallah ‘anhu wa a’aada a‘lainaa min barokaatihi wa anwaarihi wa asroorihii wa ‘uluumihii wa akhlaaqihi allahuma amiin.


Syeikh Abdul Qadir Isa, Dari Kemewahan Kepada Kezuhudan

Beliau ialah Syeikh Abdul Qadir bin Abdillah bin Qasim bin Muhammad bin Isa Azizy Al-Halabi As-Syazili. Nasabnya bersambung kepada Syeikh Umar Al-Ba’aj yang masih keturunan Imam Husein ra.

Beliau dilahirkan di kota Halab, Syria pada tahun 1338H/1920M dari kedua orang tua yang biasa–biasa saja, bukan keturunan ulama. Beliau hidup dengan senang dan serba berkecukupan bersama kedua orang tuanya.

Masa Muda Syeikh

Di awal masa mudanya, beliau sangat menyukai kegiatan olahraga dan pramuka. Beliau juga senantiasa mengenakan pakaian yang mewah, dan memakai minyak wangi yang paling mahal.

Ketika mendapat Hidayah Allah, beliau tidak lagi suka dengan gemerlap dan gebyarnya dunia. Ketika beliau berpaling dari dunia, cara hidupnya berubah total tidak sebagaimana kebiasaannya dulu yang senantiasa hidup dalam kelalaian dan kesenangan dunia. Kemudian beliau mendekatkan diri dan berserah kepada Allah.

Perjalanannya dalam mencari Ilmu

Beliau diberikan kecintaan menuntut ilmu, kemudian bersuhbah dengan para ulama di masanya, diantara guru-gurunya adalah: Syeikh Muhammad Zumar, dan Syeikh Ahmad Muawwad.

Pada tahun 1949 beliau aktif menjadi seorang pendidik di Madrasah Asy-Syubaniyah, beliau mengajar disana selama enam tahun.

Disela-sela kesibukan beliau sebagai sorang pendidik, beliau juga seorang imam dan khotib di Masjid Hamad.

Perjalanan spritualnya

Sebelum beliau bergabung dengan madrasah Asy–Syubaniyah, beliau pernah bersuhbah pada Syeikh Hasan Hasani, seorang Syeikh Tarekat Al–Qodiriyah. Kemudian beliau menempuh perjalanan spritualnya dibawah didikan dan gemblengannya hingga akhirnya ia di beri izin untuk mengembangkan tarekat ini. Dan ditengah-tengah suhbahnya beliau tetap mengajar di madrasah Syubaniyah.

Ketika beliau masih menuntut ilmu di madrasah Syubaniyah, beliau terkenal dengan sifat-sifatnya yang baik, dan budi pekertinya yang luhur, semangatnya yang tak pernah pantang menyerah, semua itu menunjukkan akan kepribadiannya yang baik. Maka tak heran meskipun beliau masih menjadi seorang pelajar, banyak teman-teman di madrasahnya berada dalam bimbingan dan irsyadatnya.

Diantara tanda ketinggian semangatnya dan kejujuran keinginannya untuk mendapatkan cinta dan keridhaan Allah, gelar masyikhoh tidak membuatnya sombong (gurur), dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah diperolehnya berupa ketinggian dan kedudukannya, maka beliau senantiasa mencari seorang syekh yang kamil yang dapat mengenalkan dirinya kepada Allah. Tentang hal ini ia berkata:

“Aku pernah membaca dalam kitab syarah Al-Hikam karya Ibnu Ajibah, aku melihat didalamnya ada sesuatu yang aku sendiri belum merealisasikannya- meskipun pada saat itu aku sudah menjadi seorang Syekh, pada saat itu aku sadar sekali bahwa aku harus bersuhbah dengan seorang syekh yang kamil”.

Di kota Halab beliau belum mendapatkan apa yang diinginkannya, maka beliau memutuskan untuk pergi ke Damaskus. Disana beliau bertemu dengan para ulama setempat, akan tetapi dari sekian banyak ulama yang dijumpainya, beliau belum mendapatkan seorang syekh yang menjadi dambaannya. Lalu beliau berulang-ulang menziarahi kuburan Syekhul akbar Muhyiddin Bin Arabi r.a. lalu beliaupun mendapatkan ilham/petunjuk untuk bersuhbah kepada Syekh Muhammad Al-Hasyimi, salah seorang Syekh Thariqoh Asy-Syaziliyah. Lalu beliau mencarinya, dan mendapatkan syekh Muhammad Al-Hasyimi berada di masjid Al-Umawi di Damaskus sedang memberikan pembahasan ilmu tauhid kepada beberapa orang muridnya. Beliaupun mendatangi majlis Syekh Al-Hasyimi dan memperkenalkan dirinya, lalu Syekh Al-Hasyimi berkata kepadanya: “Engkau adalah orang yang paling akhir datang, dan Insya Allah engkau akan menjadi orang pertama diantara mereka, ketahuilah sekian lama aku telah lama menunggumu”.

Maka sempurnalah keinginannya untuk bersuhbah dengan seorang syekh yang kamil, beliau bersuhbah dengan Syekh Muhammad Al-Hasyimi tahun 1952 sampai Syekh Muhammad Al-Hasyimi wafat tahun 1961 M.

Ketika Syekh Al Hasyimi melihat pada diri Syekh Abdul Qodir Isa kemampuan untuk membimbing, maka beliau mengijazahkan wirid am dan khas dalam tarekat syaziliyah, sebagaimana diizinkan pula untuk membimbing dan mentarbiyah. hal itu terjadi pada tahun 1338 H / 1958.

Syekh Abdul Qodir Isa ketika itu masih menjadi imam dan khotib di masjid Sahah Hamad sampai akhirnya beliau ditempatkan di Masjid Al-Adiliyah, kemudian disana beliau membuka majlis zikir setiap hari kamis setelah shalat isya.

Syekh memakmurkan Masjid Al-Adiliyah dengan majlis-majlis ilmu dan zikir, hingga tersebarlah kemasyhurannya kesemua pelosok negeri, maka berbondong-bondonglah orang-orang belajar kepada beliau dengan berbagai macam tingkat keilmuan mereka. Setelah itu tersebar luaslah Tarekat yang beliau pimpin di sebagian besar wilayah Syiria, bahkan menyebarluas sampai ke negara-negara tetangga seperti: Yordan, Turki, Libanon, dan Irak. Dan terus menyebarluas kemasyhurannya sampai hampir tidak ada satu negarapun di dunia ini, melainkan terdapat para ikhwan dan murid-murid syekh. Dan tarekat ini pun sampai juga ke negeri Kuwait, Saudi Arabiyah, Maroko, Aprika selatan, Hindia, Pakistan, Inggris, Belgia, Prancis, Kanada, Amerika, dan negara-negara lainnya. Semua ini menunjukkan penguasaan Syekh yang luas dalam bidang ma’rifat, tarbiyah dan irsyad.

Syekh merupakan seorang pembaharu pertama dalam tarekat sufiyah secara umum dan tarekat syaziliyah secara khusus. Hal ini terbukti dari buku beliau yang berulang kali dicetak ulang dan diterjemahkan kedalam bahasa inggeris, turki, indonesia dan melayu hingga nama beliau terkenal di mana-mana.

Ketinggian maqom syekh terbukti dengan banyaknya murid-murid beliau dari berbagai macam tingkat pendidikan dari setiap negara. Murid-murid beliau laksana penyambung lidah beliau dalam dunia tarekat, karena Syekh tidak meninggalkan kekayaan ilmiyah kecuali buku (Haqoiq an At- Tasawuf) saja. Itu semua disebabkan kewajiban-kewajiban da’wah yang harus diperbaiki yang berada dipundaknya dalam rangka menyebarkan tarekat yang benar yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Masalah ini telah disebutkan dalam lembaran-lembaran buku beliau.

Inti dari manhaj beliau dan apa yang ingin beliau sampaikan kepada orang-orang, telah dituangkan dan jelaskan dalam bukunya ”Haqoiq an An- Tasawuf ” di mana buku ini sebagai pembuka dalam memahami ilmu syariat, tarekat dan hakikat. Hingga banyak orang menerima dan mengambil manfaat dari kitab ini sesuai dengan tingkat pendidikan mereka.

Karamah Syeikh

Diceritakan bahwa syeikh memiliki sejumlah karamah dan khusyufat (kepekaan spiritual) yang nyata, akan tetapi beliau menepis semua hal itu, bahkan senantiasa mengingatkan para murid agar tidak terjebak pada karamat dan khusyufat, dan beliau senantiasa menegaskan bahwa: “Karamat yang paling besar adalah istiqomah terhadap syariat Allah SWT”. Dan definisi tarekat menurut syekh adalah: beramal menurut syariat”. Ketika beliau mendefinisikan tasawuf, beliau berkata: “Tasawuf semuanya adalah akhlak, barang siapa yang bertambah akhlaknya maka bertambah pula nilai ketasawufannya”.

Selama lima tahun beliau mendapat kemuliaan tinggal di kota Madinah berdekatan dengan maqam Rasulullah Saw, kemudian menetap di Yordan tepatnya di kota Aman untuk berda’wah (menyeru kepada Allah), apa yang dilakukan beliau sebagaimana perilaku para Siddiqin al-mutahaqqiqin yang bila singgah di suatu tempat, masyarakat setempat senantiasa mengambil manfaat dari ilmu, prilaku, dan da’wahnya.

Pada tahun 1991 beliau pergi ke Turki mengunjungi salah seorang muridnya Sayyid Syekh Ahmad Fathullah, salah seorang khalifah tarekat. Ketika disana syekh terkena sakit, dan penyakitnya semakin parah, kemudian beliau dirawat di salah satu rumah sakit di kota Mar-asy, setelah itu beliau dipindahkan ke salah satu rumah sakit di kota Istambul.

Para doktor spesialis yang menangani syekh merasa heran, karena tidak sedikitpun tampak diwajah Syekh adanya rasa sakit, beliau diam, tanpa mengeluh sedikitpun. Hati, mata hati, dan seluruh tubuhnya tenggelam merasakan kebesaran dan mahabbah Allah Swt.

Salah seorang putra Syekh ingin menenangkan perasaan, dan kesadaran Syekh, dan dari masa komanya yang panjang, juga dari kesehatan akalnya, karena sejak sakit beliau tidak berbicara dengan siapapun. Sebelum Syekh sakit beliau selalu memberikan pendidikan khusus dengan putranya ini, karena itulah putranya bertanya tentang bait syair yang pernah didengar dari bapaknya, untuk mengingatkan kepada yang hadir bahwa Allah selalu menangani (memelihara) orang-orang shalih. Alhamdulillah kondisi kesadaraan, kepekaan, dan akal syekh dalam keadaan normal. Diamnya Syekh dikarenakan beliau sedang hanyut dengan cinta Allah Swt. Lalu putranya membacakan bait syair yang berbunyi:

Hai orang yang bertanya kepadaku tentang Rasulullah,bagaimana ia lupa

Lupa itu ………………………………..

Kemudian ia berhenti, dan berkata kepada bapaknya, wahai bapakku tolong sempurnakan untukku bait syair ini, sambil mencandainya, lalu syekh menoleh kepadanya, dan menyempurnakan bait itu:

Lupa itu dari setiap hati yang lalai dan main-main

Lupa lubuk hatinya dari segala sesuatu

Maka ia lupa dari yang selain Allah

Beliau terus mengulang-ngulang bait syair ini: Lupa itu dari setiap hati yang lalai dan main-main

Kemudian mengalirlah air matanya dan menangis, setelah itu beliau tidak pernah berbicara dengan siapapun.

Wafatnya

Beliau wafat pada hari sabtu, jam 6 sore, tanggal 18 Rabiulakhir 1412H, bertepatan dengan tanggal 26 Januari 1991M. Beliau dimakamkan di samping sahabat Rasulullah yang agung Abu Ayyub Al–Anshari ra di Istanbul, Turki.

Dengan wafatnya beliau kaum muslimim merasa kehilangan seorang mursyid kamil, arif billah, dan tokoh spritual yang alim yang keberadaannya sangat diperlukan ummat. Semoga Allah merahmati dan menempatkan beliau disisiNya yang paling tinggi, dan menempatkan beliau di syurga yang luas bersama para Nabi, siddiqin, syuhada dan orang-orang soleh. Amin.

Ahad, Mac 28, 2010

Syeikh Muhammad Al-Hasyimi, Rendah Hati dan Tawadhuk

Syeikh Muhammad Al-Hasyimi dilahirkan dari kedua orangtua yang soleh, keduanya termasuk ahli bait Nabi s.a.w., nasabnya kembali pada Hasan bin Ali r.a, beliau dilahirkan pada hari sabtu 22 Syawal 1298 H di kota Sabtah sebuah kota di Tilmisan, yang merupakan kota termasyhur di Algeria. Ayahnya adalah salah seorang ulama dan hakim di kota tersebut. Ketika wafat ayahnya meninggalkan anak-anak yang masih kecil dan beliau adalah anak yang paling tua di antara mereka.

Selanjutnya untuk beberapa lama beliau tetap menyertai para ulama dan masuk dalam barisan mereka dengan tekun demi menambah ilmu. Kemudian beliau hijrah bersama gurunya Muhammad bin Yallas ke negri Syam melarikan diri dari kezaliman penjajah Perancis, yang melarang masyarakat Algeria untuk menghadiri halaqoh-halaqoh para ulama serta taujihat-taujihat mereka. Hijrah mereka tersebut pada tanggal 20 Ramadhan 1329 H melalui jalur Tonjah dan Marsilia, menuju ke negeri Syam. Kemudian menetap di Damsyik untuk beberapa hari, dan pada waktu itu pemerintah Turki berupaya memisahkan para pendatang Algeria dan beliau bernasib pergi ke negara Turki dan tinggal di Adhnah, sedangkan guru beliau Ibnu Yallas tetap tinggal di Damaskus. Dua tahun kemudian Syeikh Al Hasyimi kembali ke Damsyik; dan beliau bertemu kembali dengan gurunya Ibnu Yallas lalu menemani dan selalu menyertai beliau.

Di negeri Syria beliau terus menuntut ilmu dari para ulama besar, di antara yang paling terkenal adalah Ahli Hadis Besar, Syeikh Badaruddin Al-Hasani, Syeikh Amin Suwaid, Syeikh Ja’far Al-Kattani, Syeikh Najib Kiiwani, Syeikh Taufik Al-Ayyubi, Syeikh Mahmud Al-’Attar dari beliau syekh Al-Hasyimi mempelajari Usul Fiqh, dan Syeikh Muhammad bin Yusuf yang terkenal dengan sebutan Al-Kaafi dan darinya beliau belajar fiqih Maliki, dan para guru beliau telah mengijazahkannya ilmu-ilmu aqli dan naqli.

Adapun di bidang Tassawuf beliau diberikan izin oleh Syeikh Muhammad bin Yallas dengan wirid umum dikarenakan keunggulan beliau atas murid-murid lainnya dalam bidang ilmu dan pengetahuan serta karena keikhlasan dan pengabdiannya.

Setelah mursyid besar Syeikh Ahmad bin Mustofa Al-’Alawi datang dari Algeria untuk melaksanakan ibadah haji; beliau singgah di Damsyik setelah wafatnya Syeikh Muhammad bin Yallas dan mengijazahkan Syeikh Al-Hasyimi wirid khusus { Talqin Al-ism Al-A’dhom dan Al-Irsyad Al-’Am }.

Akhlak dan Perilaku

Syeikh Al-Hasyimi adalah seorang yang berakhlak seperti akhlak Nabi SAW, di mana beliau mengikutinya dalam seluruh ungkapan, perangai, akhlak, dan perbuatannya, dan beliau juga telah mendapat warisan sempurna dari Rasul SAW. Beliau adalah seorang yang rendah hati sehingga beliau terkenal dengan ketawadhuan tersebut, bahkan pada zamannya tak ada seorang pun yang menyamai ketawadhuan hatinya.

Beliau memperlakukan orang seperti halnya beliau suka diperlakukan demikian. Pernah seorang lelaki menemui dan mencium tangan almarhum syekh, kemudian syekh ingin mencium tangan lelaki tersebut, tapi lelaki itu menghindar dan berkata: “Astaghfirullah, tuan saya tidak berhak diperlakukan seperti ini, justru saya yang harus mencium kaki tuan. Lalu almarhum syekh berkata: Jika anda mencium kaki kami, kami akan mencium kaki anda. Dan beliau adalah orang yang senang melayani sendiri kawan-kawannya. Sehingga ketika ada yang berziarah atau murid yang menginap, beliau menghidangkan sendiri makanan dan membawaka kasur padahal beliau dalam kondisi yang lemah.

Seringkali kami mengunjunginya pada tengah malam, dan kami mengetuk pintu rumahnya, kemudian beliau membukakan pintu tersebut dan pada saat itu beliau mengenakan pakaian yang selalu beliau pakai disaat menemui khalayak ramai, seperti seorang prajurit yang selalu siap siaga. Sama sekali kami tidak pernah melihatnya mengenakan pakaian tidur. Beliau adalah seorang yang sabar dan murah hati, tidak marah kecuali karena Allah. Pernah terjadi seorang lelaki dari Damaskus datang ke rumah beliau lalu menyerangnya serta mengejek dan mengolok-oloknya dan mengeluarkan kata-kata yang membuat kulit seorang muslim merinding, akan tetapi syekh r.a hanya berkata kepadanya: Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sesungguhnya anda telah menampakkan aib-aib kami, kami akan meninggalkannya dan berusaha untuk berakhlak baik, tak lama kemudian lelaki tersebut menghampiri syekh dan mencium kaki dan tangannya dan meminta maaf kepadanya.

Beliau adalah seorang dermawan yang tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya. Seringkali kami melihat orang-orang mendatanginya dan beliaupun memberikan dan menghormati mereka. Terlebih lagi pada musim-musim kebaikan; dimana orang-orang mendatangi rumah beliau, dan terlihat meja-meja makanan penuh dengan hidangan yang disantap oleh banyak orang, bahkan senyumnya selalu menghiasi wajahnya, sehingga saking pemurahnya beliau membangun rumahnya yang di kawasan Hay Al-Muhajirin di Damaskus dan membaginya menjadi dua: sebagian untuk keluarganya dan sebagian untuk para muridnya.

Diantara sifat r.a adalah lapang dada dan tahan terhadap segala kesusahan dan kesulitan, sangat penyabar disertai wajah yang selalu ceria dan berseri-seri, Sampai-sampai suatu ketika saya tercengang dengan kesabaran beliau, beliau berkata kepada saya: “Wahai tuan! Adab kami adalah keindahan kami. suatu ketika datang kepadanya seseorang yang telah berbuat maksiat dan orang itu tidak melihat kecuali wajah yang berseri dan kelapangan dadanya. Berapa banyak orang-orang yang berbuat maksiat dan menyimpang bertaubat ditangannya dan berkat bersuhbah pada beliau mereka menjadi mu’minin yang mengenal Allah.

Pernah terjadi ketika beliau berjalan di tengah jalan seusai menyampaikan pelajaran, maka lewatlah seorang pemabuk di hadapan beliau; dan syekh tidak berbuat apa-apa kecuali membersihkan debu-debu kemaksiatan dari wajahnya, kemudian mendoakan dan menasehatinya, dan keesokan harinya pemabuk tersebut adalah orang yang pertama datang pada pelajaran syekh, dan setelah itu ia benar-benar bertaubat dengan baik.

Almarhum sangat peduli terhadap keadaan orang-orang muslim dan ikut merasakan musibah yang telah menimpa mereka. Beliau menghadiri perkumpulan ulama yang berada di al Jami’ al Umawi, membahas tentang perkara-perkara umat islam dan mewanti-wanti akan perpecahan di antara mereka. Dan beliau telah mencetak sebuah tulisan yang menerangkan tentang sebab perpecahan dan bahayanya, dan faedah bersatu atas nama Allah serta berpegang teguh dengan tali Allah, tulisan itu berjudul :

Al-qoul Al-fashl AL-qowim fi Bayan Al-Murod min Wasiat Al-Hakim

Almarhum adalah seorang yang sangat membenci penjajahan dengan segala bentuknya, mencari sejauh mana hubungan antara kejadian-kejadian yang ada dengan penjajahan serta bagaimana jalan keluarnya. Ketika pemerintah menganjurkan masyarakat untuk berlatih perang dan membentuk perlawanan rakyat, beliau segera mendaftar namanya dalam gerakan perlawanan tersebut, maka beliau pun berlatih menggunakan segala jenis senjata meski dalam kondisi badan yang lemah dan kurus serta usia yang sudah lanjut. Dengan demikian beliau telah memberikan contoh yang ideal bagi kekuatan iman, akidah dan jihad di jalan Allah, beliau mengingatkan kita akan orang-orang terdahulu dari para mursyidin sempurna yang melawan dan memerangi kolonialisme; semisal Umar Al-Mukhtar, Al-Sanusi dan Abdul Qodir Al-Jazairi. Dan tidak ada seorang mujahid pun di Maroko yang berupaya mengusir kolonialisme serta antek-anteknya kecuali orang-orang sufi.

Almarhum adalah seorang yang berperangai dan berperilaku baik, yang menjadikan orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil tasawwuf hakiki darinya, bahkan dikatakan: Al Hasyimi tidak terkenal dengan ilmunya walaupun beliau adalah seorang yang alim, dan juga tidak terkenal karena karomahnya walaupun beliau mempunyai banyak karomah, akan tetapi beliau terkenal karena akhlak dan kerendahan hatinya, serta ma’rifatnya kepada Allah.

Jika anda berada di dalam majlis beliau maka anda akan merasakan seakan-akan anda berada dalam sebuah taman surga; karena majlis beliau tidak tercampur oleh kekeruhan dan kemungkaran. Dan almarhum tidak menyukai jika ada orang muslim disebut dan direndahkan di hadapannya. beliau juga tidak menyukai jika di dalam majlisnya disebut orang-orang fasik dan semisalnya, beliau berkata: jika menyebut orang-orang sholeh maka rahmat akan turun.

Beliau tetap tekun serta komitmen dalam berjuang untuk mengarahkan orang-orang islam dan mengeluarkan mereka dari kesesatan dan penyelewengan. Hal ini terlihat dari halaqoh-halaqoh ilmu beliau yang berkesinambungan dari pagi sampe sore, terlebih lagi ilmu tauhid yang merupakan pokok-pokok dasar agama dimana beliau menjelaskan akidah-akidah yang membelot dan atheisme serta menerangkan akidah ahli sunnah wal jama’ah dan kembali kepada Allah SWT serta bergantung hanya kepada-Nya.

Aktifitas beliau dalam dakwah dan bimbingan

Sungguh rumah beliau adalah kiblat bagi para ulama, pelajar dan pendatang, beliau sama sekali tidak pernah bosan menemui mereka, meski dalam kondisi tubuh yang lemah, beliau tetap mengadakan halaqoh-halaqoh ilmu dan zikir secara rutin di masjid-masjid dan rumah-rumah, dan berkeliling ke masjid-masjid di Damaskus, mengumpulkan orang-orang untuk belajar, zikir dan bersolawat kepada Rasulullah SAW. Dan beliau tetap konsisten dalam semangat, aktifitas dan dakwahnya sampai akhir hayatnya.

Banyak dari para ulama dan pelajar pilihan dan handal yang belajar kepada beliau, dan dari berbagai lapisan masyarakat banyak pula yang mendapat petunjuk berkat bimbingan beliau, mereka menimba ilmu-ilmu beliau, mengutip keimanan dan ma’rifat-ma’rifat dzauqiyah beliau, dan kembali kepada beliau dalam segala urusan mereka.

Beliau telah mengizinkan banyak dari para murid untuk berdakwah dan memberikan bimbingan, maka mulailah kekuatan spritual terbesar ini menyebar luas di Damaskus, Halab dan di berbagai kota-kota Syria dan negara-negara Islam lainnya.

Karya Tulis beliau

1. Miftahul Jannah Syarah Aqidah Ahlis Sunnah

2. Ar-Risalah Al-Mausumah bi aqidah ahlis sunnuh Wal

3. Al-Bahsu Al-Jami’ wa Al-Baqru Al-Lami’ wa Al-Ghaisu Al-Hami’

4. Ar-Risalah Al-Mausumah bi sabil As-Sa’adah

5. Ad-Durrah Al-Bahiyyah

6. Al-Hil As-Sadid

7. Dan banyak lagi.

Banyak para ulama dan kalangan lainnya yang hampir tidak diketahui jumlahnya mengambil tasawwuf dari Syeikh Al-Hasyimi.

Demikianlah Syeikh Al-Hasyimi telah menghabiskan hidupnya untuk berjuang dan mengajar, mentarbiyah jiwa-jiwa, dan mensucikan hati-hati yang ingin mengenal Tuhannya, tanpa malas dan mengenal lelah. Keistiqomahan beliau dalam menjalankan syariat Rasulullah SAW, baik itu ungkapan, perbuatan dan perilaku serta wasiat Rasul di akhir hayatnya yang mengatakan: “Kalian harus berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah”, hal ini menjadi saksi atas kesempurnaan warisan beliau dari Rasulullah SAW.

Akhirnya beliau pun berpulang ke ridhwanullah pada hari Selasa, 12 Rejab 1381 H, bertepatan dengan 19 Disember 1961 M, dan beliau disolatkan di masjid Al-Umawi, kemudian jenazah beliau diantar ke pemakaman Dahdah, dan di sanalah beliau disemayamkan, yang mana tempat tersebut sampai sekarang terkenal dan sering diziarahi banyak orang.

Sungguh, walaupun jasad suci beliau tertutup oleh kubur, namun ilmu, keistimewaan, kebajikan dan apa-apa yang telah belaiu berikan kepada orang berupa kebaikan tidak pernah tertutup, maka hendaklah orang-orang melakukan seperti yang telah beliau lakukan.

Inilah sebahagian dari catatan perjalanan mulia beliau, dan apa yang kami sampaikan hanyalah sedikit dari limpahan, setitik dari lautan, sebab prilaku para ‘arifin tersimpan dalam murid-murid mereka, dan bagaimanakah orang bisa mengetahui apa yang disembunyikan oleh dada dan hati mereka? Dan pada orang seperti beliaulah dikatakan: “Jika kamu bertanya dimana kuburan orang-orang agung, maka ada dalam mulut-mulut atau dalam jiwa-jiwa”.

Maka figur seperti inilah yang harus kita contoh dan kita tiru: “Maka tirulah mereka, jika kalian tidak bisa menjadi seperti mereka, sebab meniru orang-orang mulia adalah sebuah kemenangan”, bahkan dikatakan: “Kematian seorang yang bertakwa adalah kehidupan yang tak terputus, telah banyak orang yang mati, tapi mereka masih hidup dalam jiwa manusia”.

Ahad, Mac 28, 2010

Syeikh Ahmad Sirhindi, Wali Yang Unik

Syeikh Ahmad Sirhindi adalah mutiara dari mahkota pengetahuan para wali. Beliau adalah perbendaharaan yang berharga dari wali terdahulu dan yang akan datang. Di dalam diri beliau terkombinasi semua sifat dan kebaikan mereka.

Syeikh Ahmad Sirhindi adalah Sinai dari perwujudan Ilahi, sidrathul muntaha dari pengetahuan yang unik, dan air terjun dari pengetahuan yang tersembunyi dari para Nabi. Beliau adalah Ulama yang sangat jenius dan Sultan di muka bumi, yang terlahir dalam keadaan tersenyum dan dimuliakan. Beliau adalah pembimbing sempurna yang disempurnakan. Beliau adalah muadzin yang memangil orang-orang ke Hadirat-Nya.

Kutub Utama dan Imam syurgawi yang unik

Syeikh Ahmad menghidupkan agama di milenium ke dua, pemimpin kami dan guru besar kami, putra dari Syeikh Abdul Ahad, putra dari Zain al Abidin, putra dari Abdul Hayy, putra dari Muuhammad, putra dari Habib Allah, putra dari rafiudin, putra dari Nur, putra dari Sulaiman, putra dari Yusuf, putra dari Abdullah, putra dari Ishaq, putra dari abdullah, putra dari Shuayb, putra dari Ahad, putra dari Yusuf , putra dari Shihabudin, putra dari Nasrudin, putra dari Mahmud, putra dari Sulayman, putra dari Masud, putra dari Abdullah al-Waiz al-Saghari, putra dari Abdullah, putra dari abdul Fatah, putra dari Ishaq, putra dari Ibrahim, putra dari Nasir, putra dari Abdullah, putra dari Amirul Muminin, khalifah Nabi Umar al-Faruq ra.

Beliau lahir di hari Asyura, 10 Muharam 971H/1564M, di sebuah desa bernama Sihar Nidbasin. Daerah itu disebut juga Sirhindi atau Lahore , sekarang di Pakistan. Beliau menerima pengetahuan dan pendidikan dari ayahnya dan melalui para Shaykh di zamannya.

Beliau menguasai dengan cepat tiga Jalan spiritual: Suhrarwardi, Chisti, dan Qadiri. Beliau diizinkan untuk mulai membimbing pengikut dari ketiga Jalan tersebut pada usia 17 tahun. Beliau sangat aktif dalam menyebarkan ajaran dari ketiga jalan tersebut dan membimbing pengikutnya, tetapi tetap beliau merasakan ada sesuatu yang hilang di dalam dirinya dan beliau melakukan pencarian tanpa henti untuk itu.

Beliau tertarik dengan jalan Naqshbandi, karena beliau dapat melihat dengan pengetahuan dari ketiga jalan yang beliau kuasai bahwa Naqshbandi adalah jalan yang paling tinggi.Di dalam proses pencarian spritual ini akhirnya membawa beliau kehadapan Kutub Spritual di zamannya, Shaykh Muhammad al-Baqi, yang dikirim oleh dari Samarqand ke India oleh Shaykh beliau Shaykh Muhammad al-Amkanaki. Beliau mempelajari ajaran Naqshbandi dari shaykh Muhammad Baqi dan tinggal bersama selama dua bulan atau terkadang beberapa hari, hingga tiba saatnya Shaykh Muhammad al-Baqi membukakan hatinya, dan mengisinya dengan ajaran yang tersembunyi dari jalan ini dan memberi izin untuk membimbing murid-muridnya di jalan ini. Shaykh Muhammad al-Baqi berkata tentang diri beliau Dia adalah kutub spiritual tertinggi.

Prediksi tentang beliau

Rasul saw mengatakan dalam salah satu hadistnya:

Akan ada seseorang hadir diumatku yang dipanggil dengan silah (penghubung). Dengan syafaatnya akan banyak orang akan diselamatkan. Ini terdapat di kumpulan hadis Suyuti, Jam al-Jawami. Yang membuat ini menjadi hal yang benar adalah ketika Shaykh Ahmad Al-Faruqi berkata tentang dirirnya Allah telah menjadikan diriku silah (penghubung) antara dua samudera ini berarti bahwa Allah swt telah membuat beliau sebagai penghubung antara dua pengetahuan, yaitu eksternal dan internal.

Shaykh Mir Husamudin berkata:

Aku melihat Rasul saw dalam mimpiku berdiri di mimbar dan memuji Shaykh Ahmad Sirhindi. Rasulullah saw berkata.Aku bangga dan bahagia dengan hadirnya dia di umatku. Tuhan telah menciptakan dia menjadi seorang pembangkit agama.

Para awliya telah memprediksi kemunculan beliau. Salah satunya adalah shaykh Ahmad al Jami, yang berkata:

Setelah aku akan muncul 17 pria dari hamba Allah, semuanya bernama Ahmad, dan yang terakhir dari mereka akan menjadi kepala dari milenium. Dia akan menempati posisi puncak di antara mereka, dia akan menerima pengetahuan yang tersembunyi. Dia akan membangkitkan agama.

Prediksi lainnya adalah dari Shaykh Muhammad al-Amkanaki, yang berkata kepada khalifahnya:

seorang dari India akan muncul. Dia akan menjadi Imam di abadnya. Dia akan engkau latih, segera temui dia, karena para hamba Allah telah menanti kedatangannya.

Muhammad al-Baqi berkata, Itu sebabnya aku pindah dari Bukhara (rusia) ke India ketika mereka bertemu, beliau berkata kepada Shaykh Ahmad al-Faruqi:

Engkau adalah yang dimaksud oleh Shaykh al-Amkanaki.

Ketika aku melihat engkau, aku tahu engkau adalah kutub spiritual di waktumu. Ketika aku memasuki daerah Sirhindi di India, aku menemukan lampu yang sangat besar dan sangat terang hingga cahayanya menggapai Surga. Semua orang mengambil cahaya dari cahaya itu, Engkau adalah lampu itu.

Juga dikatakan oleh shaykh dari ayahnya, shaykh Abdul Ahad, yang saat itu adalah shaykh dari Qadiri, bahwa beliau pernah diberikan sebuah jubah dari shaykhnya sebelumnya yang mewarisi dari pembimbing Agung, shaykh Abdul Qadir Jailani. Beliau berkata kepada penerusnya:

Simpanlah jubah ini untuk seseorang yang akan muncul di akhir milenium pertama. Namanya Ahmad. Dia akan membangkitkan agama. Aku telah menghiasi dia dengan seluruh rahasiaku. Dia akan mengkombinasikan di dalam dirinya pengetahuan internal dan eksternal.

Pencarian sang Raja dan Raja pencari

Pandangan dan Pendakian Spiritual Beliau

Shaykh Ahmad al Faruqi berkata:

Untuk engkau ketahui bahwa sesungguhnya para penjaga Surgawi menarik perhatian diriku karena mereka ingin aku tertarik kepada mereka. Mereka mempersiapkan diriku dalam perjalanan menembus ruang dan waktu di berbagai tingkatan dari para pencari. Aku menemukan bahwa Tuhan adalah esensi dari semua materi, sebagaimana orang-orang sufi telah menyatakannya.

Kemudian aku menemukan Tuhan di dalam setiap materi tanpa adanya inkarnasi. Aku menemukan Tuhan bersama semua materi. Aku melihat Tuhan di atas segalanya.

Kemudian aku melihat Tuhan dan aku tidak melihat ada yang lain. Ini adalah maksud dari kesaksian atas keEsaan ,yang juga merupakan tingkatan nihil (non eksistensi/fana). Ini adalah tingkat pertama dalam kewalian, dan merupakan tingkatan tertinggi di permulaan Jalan ini. Panorama ini muncul pertama di horison, kemudian di dalam diriku. Kemudian aku diangkat ke tingkat kekekalan (eksistensi/baqa), ini adalah tingkat ke dua dalam kewalian.

Ini adalah level dimana para wali banyak yang tidak membicarakannya karena mereka tidak menggapainya.

Mereka semua berbicara tentang level nihil (non eksistensi/fana), tetapi setelah tingkatan ini adalah level kekekalan (eksistensi/baqa). Di level ini aku menemukan esensi dari semua ciptaan adalah Tuhan dan esensi dari Tuhan adalah esensi dari diriku. Aku menemukan Tuhan disemua bentuk tetapi dalam realitasnya di dalam diriku. Aku diangkat ke tingkat yang lebih tinggi, untuk menemukan bahwa Tuhan bersama dengan semua ciptaan, tetapi dalam realitasnya Dia dengan diriku.

Kemudian aku diangkat untuk melihat bahwa Dia mendahului segalanya, tetapi sesungguhnya Dia mendahului diriku. Aku kemudian diangkat lagi ke tingkatan bahwa Tuhan mengikuti segalanya. Tetapi dalam realitas Dia mengikuti aku. Aku melihat Dia di dalam semua ciptaan namun realitasnya Dia di dalam diriku. Kemudian aku melihat semua ciptaan dan aku tidak melihat Tuhan dan ini adalah akhir dari semua tingkatan kewalian dimana mereka membawa aku kembali ke permulaan. Kesimpulannya, mereka mengangkat diriku ke level nihil (non eksistensi/fana), kemudian ke level kekalan (eksistensi/baqa), kemudian mereka membawaku kembali ke level umum (awam) ini adalah level tertinggi dalam membimbing umat ke hadirat Ilahi. Ini adalah tingkat sempurna dalam bimbingan, karena cocok dengan tingkat pemahaman manusia.

Aku telah menemani hari ini seseorang yang telah menggapai akhir dari akhir, kutub spiritual dari semua ciptaan, manusia yang sempurna, shaykh Muhammad al-Baqi. Melalui diri beliau aku menerima berkah luar biasa. Dengan berkahnya aku dianugerahi kekuatan untuk menarik perhatian yang mengijinkan aku untuk menyentuh semua manusia yang telah Tuhan ciptakan. Aku telah diberikan kehormatan untuk mencapai suatu tingkat yang mengkombinasi tingkatan akhir dan tingkatan awal.

Aku telah mencapai semua tingkat dari para pencari dan aku telah mencapai akhir, ini adalah makna dari mencari nama dari ar-Rabb (Yang Maha Mendukung) dengan dukungan dari singa Allah (Asad Allah), Ali Bin Abi Thalib ra, semoga Allah memberkahi wajahnya. Aku diangkat ke tingkat Singgasana Ilahi, ini adalah tingkatan Realitas dari kebenaran Muhammad saw. Dengan dukungan Shaykh Bahauddin Naqshband. Kemudian aku diangkat lebih tinggi lagi , ke tingkat keindahan, ini adalah level kebenaran (haqiqi) dari kutub spiritual Muhammad saw, dengan dukungan ruh Nabi yang suci.

Aku didukung oleh shaykh Alauddin al Attar, dari beliau aku menerima tingkatan dari kutub spritual terbesar dari Hadirat Muhammad saw. Kemudian perhatian surgawi dari Allah menarik diriku. Kemudian aku mendaki menuju sebuah tingkatan yang jauh sebelum kutub spiritual, spesial, dan tingkatan keaslian. Di sini dukungan dari pemberi syafaat Agung , shaykh Abdul Qadir Jailani, mendorong aku ke tingkatan keaslian dari yang asli.

Kemudian aku diperintahkan untuk kembali ke bawah, selama dalam perjalanan menurun, aku melewati semua 39 Jalan spiritual yang berbeda dari Naqshbandi dan Qadiri. Aku melihat tingkatan semua shaykh dari Jalan tersebut. Mereka menyambut dan memberi penghormatan kepadaku. Mereka kemudian memberikan kepadaku semua perbendaharaan dan pengetahuan mereka yang berharga, yang menyebabkan terbukanya tabir dari realitas yang belum pernah sebelumnya diungkapkan kepada orang lain di zamanku. Kemudian dalam perjalanan kembali, aku bertemu Khidir as, beliau menghiasai diriku dengan pengetahuan surgawi sebelum aku mencapai tingkat kutub spiritual.

Aku mendaki di berbagai waktu. Suatu saat aku mendaki di atas singgasana Ilahi. Aku diangkat sejauh jarak yang sama dengan antara singgasana Ilahi dengan bumi.

Di sana aku melihat tempat Shah Naqshband q. kemudian aku melihat di bawah tempat beliau yaitu tempat dari berbagai shaykh. Aku melihat di atas beliau tempat imam dari keluarga Rasul saw dan para khalifah yang adil. Aku melihat tempat para Nabi di satu sisi dan di sisi lainnya Nabi kita Muhammad saw. Aku melihat semua malaikat mengelilingi mereka. Pendakian seperti ini sering terjadi pada diriku.

Tentang Perjalanan Hidupnya

Abu Dawud, di dalam kitab hadist yang otentik, Rasul saw berkata:di setiap permulaan abad, Allah akan mengirimkan seseorang untuk membangkitkan agama demikian, adalah berbeda antara pembangkit setiap abad dan pembangkit setiap milenium. Ini seperti perbedaan seratus dengan seribu.

Ahmad al- Faruqi berkata:

Dalam suatu panorama spiritual, Rasul saw memberikan kabar baik kepadaku; engkau akan menjadi pewaris spiritual dan Allah akan memberikan otoritas untuk memberi syafaat atas ratusan ribu orang pada saat hari kiamat nanti. Beliau meletakkan tangannya yang mulia pada diriku dan memberikan otoritas untuk membimbing umat, dan beliau berkata kepada ku, Belum pernah sebelumnya aku memberikan otoritas untuk membimbing umat.

Pengetahuan yang muncul dariku berasal dari level kewalian. Aku menerimanya dari cahaya Nabi Muhammad saw. Para wali biasa tidak mampu mengemban pengetahuan seperti ini, karena ini di luar pengetahuan para wali.

Ini adalah esensi dari pengetahuan agama dan esensi dari pengetahuan tentang esensi Tuhan dan atributnya.

Tidak seorangpun sebelumnya membicarakan hal ini dan Tuhan telah menganugerahi aku untuk menjadi pembangkit agama di milenium ke dua ini.

Allah telah mengungkapkan kepadaku rahasia-rahasia dari KeEsaan yang Mutlak, Dia mencampurkan ke dalam hatiku berbagai macam pengetahuan spiritual dan penjelasannya. Dia mengungkapkan kepadaku rahasia-rahasia dari ayat-ayat al-Quran sehingga dari setiap huruf aku dapat menemukan samudera pengetahuan yang mengarah kepada Zat Tuhan yang Maha Tinggi, Maha Kuasa dan Agung. Jika saja aku mengeluarkan makna dari satu kata al-Quran, maka orang-orang akan memenggal leherku, seperti yang telah mereka lakukan kepada al Hallaj dan Ibnu Arabi. Ini adalah maksud dari hadist dari Rasulullah saw, di dalam Bukhari, dinarasikan oleh Abu Huraira ra,Nabi saw telah mencampurkan ke dalam hatiku dua macam pengetahuan , satu untuk aku sampaikan kepada lainnya, dan yang yang satu lagi jika aku keluarkan maka mereka akan memenggal leherku.

Allah Yang Maha Kuasa dan Agung, telah menunjukan kepadaku semua nama yang akan memasuki Jalan kami ini, dari zaman Abu Bakar as Shidiq hingga hari kiamat nanti, baik laki-laki atau perempuan, semuanya akan memasuki Surga, dengan perantaran syafaat dari para Shaykh di Jalan ini.

Al Mahdi as akan menjadi salah satu pengikut Jalan ini.

Suatu hari aku berada bersama pengikutku berdzikir bersama. Terasa di hatiku aku telah melakukan kesalahan. Kemudian Tuhan membukakan mataku,Aku telah mengampuni siapapun yang duduk bersamamu dan siapa saja yang meminta perantaraan darimu Allah swt telah menciptakan aku dari sisa cahaya penciptaan Nabi Muhammad saw.

Kabah terkadang datang dan melakukan tawaf mengelilingiku.

Allah Yang Maha Kuasa, berkata kepadaku, siapa saja yang telah engkau shalat jenazah akan diampuni dan siapa saja yang bercampur tanah kuburannya dengan kuburanmu, akan diampuni.

Allah swt berkata, Aku telah memberikan anugerah spesial dan kesempurnaan yang tidak seorangpun akan menerimanya hingga saatnya Imam Mahdi as muncul Allah swt memberikan kepadaku kekuatan luar biasa untuk membimbing. Jika aku arahkan kepada pohon yang mati niscaya pohon itu akan menjadi hijau.

Keajaiban Beliau

Salah satu shaykh besar menulis surat kepada beliau Adakah para Sahabat menerima pengetahuan seperti tingkat yang engkau telah capai dan bicarakan? jika begitu, adakah mereka menerimanya langsung pada saat yang sama atau di berbagai waktu terpisah?. Ahmad Al-Faruqi menjawab, Aku tidak bisa memberikan sebuah jawaban sekarang kecuali engkau bersedia datang ke tempatku Ketika Shaykh itu datang, seketika itu juga beliau membuka hijab hakikat spiritual kepada Shaykh tersebut dan membersihkan kegelapan dari hatinya hingga Shaykh tersebut jatuh bersujud di kaki beliau dan berkata, Aku percaya, aku percaya! Aku bisa melihat sekarang bahwa para Sahabat menerimanya hanya dengan melihat Rasulullah saw.

Suatu saat Ahmad al-Faruqi diundang di bulan puasa, Ramadan, oleh sepuluh muridnya untuk berbuka bersama dengan mereka. Beliau menerima semua undangan tersebut. Ketika saat buka puasa bersama tiba, beliau hadir di setiap rumah muridnya, berbuka bersama dan mereka semua melihat beliau di waktu yang sama.

Beliau melihat ke langit dan saat itu hujan. Beliau berkata,wahai hujan, berhentilah dari jam ini hingga ke jam ini hujan berhenti tepat sesuai dengan waktu yang beliau katakan dan setelah itu hujan turun kembali.

Raja memerintahkan seseorang untuk dieksekusi.

Laki-laki itu datang kepada Shaykh Ahmad al-Faruqi dan berkata Mohon tulislah surat agar aku dibebaskan dari eksekusi beliau menulis ke Sultan, Jangan eksekusi laki-laki ini. Sultan sangat takut dan mengampuni orang itu.

Shaykh Ahmad al Faruqi berkata:

Aku telah bertemu secara spiritual dengan Imam Abu Hanifa, seluruh guru, dan seluruh muridnya. Aku belajar dari Imam Abu Hanifa dan mereka tentang mazhab Hanafi. Dan aku telah bertemu dengan Imam Shafii, seluruh guru dan muridnya, dan aku telah mempelajari dari mereka mazhab shafii, aku menjadi ahli di kedua mazhab tersebut dan aku bisa memberikan penilaian dari dua mazhab tersebut.

Aku diberi wewenang untuk melakukan inisiasi dalam tiga jalan sufi: Naqshbandi, Suhrawardi dan Chisti.

Beliau sangat terkenal sebagai cendikiawan, sehingga membuat ulama berpengetahuan eksternal (ulama fiqih) di zamannya menjadi cemburu. Mereka mengadu kepada raja dan mengatakan Dia telah mengatakan sesuatu yang tidak ada di dalam agama mereka memaksa Raja untuk memenjarakannya. Beliau dipenjara selama tiga tahun.

Putra beliau, shaykh Sayyid berkata,Beliau berada dalam penjagaan yang ketat. Penjaga berkeliling setiap saat di setiap sudut ruangan. Tetap saja setiap Jumat beliau terlihat di mesjid besar. Meski penjagaan semakin diperketat, beliau selalu menghilang dan muncul di mesjid akhirnya mereka memahami bahwa mereka tidak bisa memenjarakannya dan melepaskannya.

Dari Buku-buku Karya Beliau

Shaykh Ahmad faruqi menulis banyak buku, salah satunya yang terkenal adalah Maktubat di dalamnya beliau menulis:

Untuk diketahui bahwa sesungguhnya Allah swt telah meletakan kepada kita kewajiban dan larangan-Nya. Allah berfirman Apapun yang Rasulullah berikan kepadamu, ambilah, dan apapun yang beliau tahan darimu, tinggalkanlah (59,7). Jika kita ingin jujur dalam hal ini, berarti kita harus menggapai tingkatan non eksistensi dan kecintaan kepada Dzat Tuhan. Tanpa ini kita tidak akan mencapai tingkat kepatuhan, sebab itu kita dibawah kewajiban lainnya, yaitu mencari Jalan Sufisme, karena Jalan ini akan membimbing kita menuju tingkatan non eksistensi dan kecintaan kepada Dzat Tuhan. Setiap Jalan mempunyai cara yang berbeda dalam soal kesempurnaan, tetap saja setiap Jalan mengajarkan untuk selalu menjaga sunnah dari Nabi Muhammad saw dan mempunyai definisi sendiri tentang itu. Jalan kita, melalui para shaykhnya, membutuhkan kita untuk menjaga seluruh sunnah dari Nabi Muhammad saw dan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Para Shaykh kita tidak mengikuti jalan yang mudah melainkan bertahan untuk untuk melalui jalan yang sulit. Di dalam setiap pencarian, mereka selalu menjaga arti dari ayat yaitu orang yang tidak lalai mengingat Tuhan walaupun sedang berniaga atau jual beli (24,37)

Di dalam perjalanan untuk mengungkapkan Tabir Hakikat Ilahi, para pencari bergerak melalui beragam tingkat pengetahuan dan kedekatan kepada Tuhan. Bergerak menuju Allah adalah perpindahan secara vertikal dari tingkatan yang rendah menuju tingkatan yang tinggi hingga pergerakan itu melewati batas ruang dan waktu dan semua tingkat bercampur menjadi yang disebut Pengetahuan yang dibutuhkan dari Tuhan ini juga disebut non eksistensi (fana). Bergerak di dalam Allah, adalah tingkat di mana para pencari bergerak dari tingkatan Nama dan Atribut Ilahi menuju tingkat yang sulit untuk dideskripsikan dengan tanda dan kata. Ini adalah tingkat dari Kekekalan di dalam Allah swt(baqa)

Bergerak dari Allah, adalah tingkat dimana para pencari kembali dari kehidupan surgawi menuju kehidupan sebab dan akibat, berjalan menurun dari pengetahuan yang tertinggi menuju tempat terendah. Di sini seorang pencari akan melupakan Allah dengan Allah dan dia mengetahui Allah dengan Allah dan dia akan kembali dari Allah menuju Allah. Ini disebut tingkatan terjauh dan terdekat.

Bergerak di dalam materi adalah bergerak bersama seluruh ciptaan. Ini menambah pengetahuan mengenai kedekatan seluruh elemen dan tingkatan di dunia ini setelah musnah di tingkat nihil (non eksistensi/fana).

Di sini para pencari bisa meraih tingkatan bimbingan, dan ini adalah tingkatan para Nabi dan orang-orang yang mengikuti jejak dari Nabi Muhammad saw. Ini membawa pengetahuan Ilahi ke dalam dunia seluruh ciptaan untuk menegakkan bimbingan.

Seluruh proses ini seperti memasukan benang ke jarum.

Benang mencari mata jarum, melewati dan balik kembali ke titik awal, dan akhirnya bertemu dua ujungnya, membentuk simpul dan membuat benang tidak terlepas.

Semuanya membentuk secara keseluruhan, benang, mata, dan jarum dan setiap bahan yang dijahit menjadi bentuk yang menyatu.

Para Shaykh Naqshbandi memilih untuk membimbing para muridnya, pertama melalui pergeraakan dari Allah, berjalan dari tempat tertinggi menuju tempat terendah.

Ini berguna untuk menjaga terungkapnya hijab panorama spiritual dari para murid, baru kemudian melepaskan hijab tersebut pada langkah terakhir. Jalan Spiritual yang lain memulai dari perjalanan menuju Allah, bergerak dari tempat terendah menuju tempat tertinggi, serta melepaskan hijab panorama spiritual pada langkah pertama.

Telah disebutkan di dalam hadist dari Nabi Muhammad saw,Para ulama adalah pewaris dari para Nabi. Pengetahuan para Nabi ada dua macam: pengetahuan tentang hukum-hukum dan pengetahuan rahasia. Para ulama tidak bisa disebut pewaris jika dia tidak mewarisi kedua pengetahuan tersebut. Jika dia hanya menguasai satu macam pengetahuan, maka dia tidak komplit. Pewaris sejati sesungguhnya adalah yang menguasai pengetahuan dari hukum-hukum dan pengetahuan rahasia dari para Nabi, dan hanya para Wali yang menerima dan dilindungi warisannya. Shaykh Ahmad al-Faruqi meninggalkan banyak buku.

Beliau meninggal pada tanggal 17 Safar 1034H/1624M, pada usia 63 tahun. Beliau dikuburkan di desa Sirhindi. Beliau adalah shaykh dari empat jalan sufi: Naqshbandi, Qadiri, Chisti dan Suhrawardi. Beliau lebih memilih Naqshbandi, karena beliau berkata Naqshbandi adalah ibu dari semua jalan sufi beliau memberikan rahasia dari mata rantai emas (Golden Chain) kepada shaykh Muhammad Masum.

Ahad, Mac 28, 2010

Syeikh Zakaria al-Anshari, Sufi Nan Faqih

Khazraj adalah daerah asal alim besar yang bernama lengkap Syeikh Zakaria al-Anshari al-Khazraji. Sayang sekali tahun kelahiran sufi yang sangat harum namanya di dunia Islam ini tidak tercatat. Namun kiranya nama besarnya bisa menutup kealpaan sejarah. Atau kalau memang tanggal kelahiran bisa dijadikan event perayaan. Kiranya para pecinta ilmu keislaman bisa merayakannya tiap hari demi mengingat tokoh besar ini, meskipun dengan cara penambahan kelimuan.

Syeikh Zakaria datang ke Mesir

Syeikh agung yang sangat akrab di telinga para santri ini datang ke Mesir pada masa pemerintahan Qaitbay. Di Mesir ia memperdalam kelimuan di al-Azhar pada saat masih usia 18 tahun.

Tentang kisah kehidupan syekh Zakaria sejak mulai datang ke Mesir hingga akhir hidupnya, beliau ceritakan kepada muridnya, Syeikh Sya'rani : "Kamu mahu aku beri tentang perjalanan saya dari awal hingga akhir ? Maksudku supaya ilmu kamu menjadi dalam, dan seolah-olah kamu hidup dengan saya sejak dari awal". Dengan senang hati Syeikh Sya'rani menjawab tentu saja saya mahu Tuan. "Aku datang dari kampung, saat itu aku masih seorang pemuda yang lugu. Belum ada satupun tempat penampungan, juga belum ada seorangpun yang memperhatikan aku." Begitu Syeikh Zakaria mulai bercerita.

"Keadaan semacam itu tidak membuatku surut untuk memperdlam ilmu keislaman. Ibarat orang minum air lautan, semakin aku meminumnya aku semakin haus dan seperti mau meraih semuanya". Lanjut Syekh agung ini yang disimak khusyu' murid sejatinya.

"Suatu malam, aku lupa kapan itu terjadi, aku keluar mengambil kulit semangka yang tergeletak hina di samping tempat wudlu. Aku mencucinya dan makan rizki yang bagiku itu sangat berarti. Rupanya kebiasaan orang miskin yang aku jalani ini diketahui oleh seseorang yang kemudian aku ketahui bekerja di tempat penggilingan gandum. Mungkin karena iba dengan nasibku, tapi yang pasti beliau sangat baik dan berjasa dalam hidupku, orang itu membelikan aku semua kebutuhanku dari buku-buku dan pakaian. "Zakaria, jangan pernah meminta sesuatu kepada siapapun. Apapun yang kamu perlukan akan aku penuhi" demikian ucap orang mulia ini suatu ketika.

Hal ini berlangsung bertahun-tahun. Hingga suatu ketika di malam yang sepi, ketika orang-orang sedang tidur, tiba-tiba sang dermawan itu mendatangiku "Bangunlah" begitu ucapnya tiba-tiba. Aku berjalan mengikuti langkah-langkahnya dan berhenti di suatu tangga tempat bahan bakar. Tangga itu lumayan tinggi. Di tengah pikiranku yang berkecamuk mengapa aku dibawa ke tempat ini tiba-tiba orang mulia itu berkata kepadaku: "Naiklah " "Naik tangga ini ?" aku bertanya dalam bimbang. "Ya, naikilah tangga itu.

Aku menaiki tangga itu dengan pelan dan terus berpikir apa makna semua ini. Orang tua asuhku it uterus bilang, "Ayo terus naik, terus ". setelah aku sampai di puncak beliau berkata : "Kamu akan tetap hidup sementara semua kawan sezamanmu telah mati. Kamu akan unggul melebihi semua ulama Mesir. Murid-muridmu akan menjadi syekh-syekh besar. Inilah yang terjadi dalam kehidupanmu hingga tertutup penglihatanmu". "Berarti aku akan menjadi buta?" ratapku seketika. Beliau berkata: "Sabarlah itu sudah menjadi suratan wajib bagimu". Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu beliau lagi.

Syeikh Zakaria, aktiviti keilmuan dan kesufian

Secara konsisten Syekh Zakaria belajar, mengaji di al-Azhar. Beliau mendengarkan pengajian para ulama, para ahli fikih serta para ahli tasawwuf secara khusus. Hingga akhirnya beliau menjadi seorang tokoh aliran fikih dan tasawwuf.

Bagi sufi agung ini waktu mempunyai arti yang sangat besar. Dalam hal ini, Syekh Sya'roni berkata: "Saya telah melayani beliau selama 20 tahun. Sungguh saya tidak pernah mendapatkan dirinya lupa sedikitpun. Beliau tidak pernah melakukan suatu pekerjaan yang tidak ada artinya, baik siang maupun malam”.

Seiring dengan merangkaknya usia, beliau selalu melakukan shalat sunnah secara sempurna. Beliau berkata: "Saya tidak ingin diri ini kembali menjadi seorang yang malas". Apabila beliau didatangi oleh seseorang yang banyak omongnya, beliau akan langsung berkata: "Kamu telah menyia-nyiakan waktu kita".

Dalam waktu yang cukup lama beliau selalu menyempatkan diri untuk berdiam diri dalam sebuah khanqah saidus suada' (tempat berkontemplasinya para sufi). "Sejak kecil saya telah menyukai Thariqah kaum sufi. Kesibukanku selalu aku isi dengan membaca buku-buku mereka dan mengambil pelajaran dari tingkah laku mereka, serta berkumpul dengan para ahli tasawwuf" demikian Syekh Zakaria berujar suatu ketika.

Dalam khanqah ini beliau selalu berkumpul dengan para ahli sufi untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka. Demikian juga mereka mengambil manfaat ilmu beliau dalam fikih dan syariat. Kehidupan beliau di dalam khonqoh banyak mempengaruhi beberapa karangan beliau, seperti syarah risalah al-qusyairi (ilmu tasawwuf), qowaid sufiah ( kaedah-kaedah sufi), serta catatan pinggir beliau dalam kitab Tafsir Baidlowi.

Kiranya sangat bermanfaat di sini untuk mengetahui sejarah khanqah saidus suada'. Tempat itu adalah pertama kali yang didirikan di Mesir. Sekaligus merupakan tempat untuk berkontemplasi Syekh Zakaria untuk waktu yang lama. Syekh Zakaria telah mempersiapkan dirinya di khanqah saidus suada' untuk menulis beberapa karangannya yang besar, sebut saja misalnya: Syarh Bukhari. Kadang-kadang beliau menyuruh muridnya Syekh Sya'roni untuk membantu menulis. Syekh Sya'roni berkata: "Tulisan saya bagus". Dia menambahkan, "Apabila saya duduk dengan beliau, seolah-olah saya duduk dengan para raja yang shalih yang arif. Mufti besar Mesir, para pangeran dan pembesar ketika duduk di hadapan beliau seperti anak-anak kecil".

Karamah Syeikh Zakaria al-Anshari

Raja al-Ghouri suatu ketika marah karena satu peristiwa. Ketika dia tahu akan kedatangan Syekh Zakariya untuk menyelesaikan masalah ini, dia memerintahkan supaya di depan rumahnya dipasang rantai. Ketika Syekh Zakariya meihat ada rantai, beliau memotong rantai tadi dengan kertas yang ada di tanganya. Selanjutnya beliau masuk bersama para penduduk.

Tertulis dalam biografi beliau, bahwa permulaan "Kasyf" (tersingkapnya rahasia ilahi) muncul setelah beliau mengarang syarah bahjah, di mana orang-orang tidak mengakui bahwa itu merupakan karangan beliau. Mereka menulis kitab al-A'ma wal Bashir sebagai komentar dan celaan terhadap beliau.

Dalam kitab ini Syekh Zakaria bercerita : "Aku adalah orang yang doanya selalu dikabulkan. Setiap aku mendoakan seseorang, maka doa permohonan itu pasti diterima". "Waktu itu aku sedang i'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan di Masjid al-Azhar, demikian beliau melanjutkan kisah Kasyaf –nya, tiba-tiba aku didatangi seorang pedagang dari Negeri Syam. "Mata saya telah buta kata orang itu membuka kata, "orang-orang menunjukkan saya agar datang kepadamu wahai Syekh, doakan saya supaya penglihatan saya dikembalikan" Kemudian berdoa kepada Allah memohon supaya penglihatannya dikembalikan.

"Kalau kamu penglihatanmu dikembalikan, kamu harus meninggalkan negeri ini". Begitu aku katakan kepadanya, karena dalam kasyf-ku ia sembuh dalam sepuluh hari. Juga karena aku takut jika dia sembuh di Mesir, dia akan cerita pada orang banyak.

Maka pergilah pedagang tersebut dan dikembalikan penglihatannya di Gaza (Palestina). Setelah sembuh dia mengirim surat dan saya membalasnya, "Jika engkau kembali ke Mesir, maka kamu akan buta lagi", Dan demikianlah, dia terus menetap di al-Quds sampai akhirnya mati dalam keadaan tidak buta.

Syekh Sya'roni bercerita : "Suatu hari aku mengaji pada beliau Syarh Bukhori. Di tengah-tengah aku membaca, beliau berkata padaku. "Cukup, ceritakan padaku mimpimu malam ini". Memang aku telah bermimpi aku bersama Syekh Zakaria dalam suatu kapal yang layarnya dari sutra, tampar dan permadaninya dari sutra hijau tipis, ada banyak balai-balai dan bantal dari sutra. Di situ aku melihat Imam Syafi'i duduk dan Syekh Zakaria di sampingnya. Kapal ini terus berjalan dan berhenti di pulau bak hati ikan yang sangat bagus. Ada perkebunan, buah buahan dan wanita-wanita cantik.

Selesai aku bercerita Syekh Zakaria berkata: "Kalau mimpimu ini benar, maka aku akan dimakamkan di samping Imam Syafi'i radiallahu 'anhu. Ketika Syekh Zakaria meninggal, para muridnya telah menyiapkan makam untuk beliau di Bab Nasr, lalu kawan Sya'roni yang tahu tentang mimpinya barkata: "Wahai Sya'roni, mimpimu bohong". Pada saat itu datanglah utusan dari Pangeran Khair Bik (wakil raja) sambil berkata: "Raja sekarang ini sedang sakit dan tidak mampu datang ke sini. Raja memerintahkan kalian untuk membawa Syekh Zakaria ke medan Qal'ah untuk dishalati di sana". Setelah salat, Khair Bik berkata : ”Makamkan saja Syekh Zakaria di pekuburan Syekh Najmuddin al-Khayusyani di depan Imam Syafi'i". Ini terjadi pada Dzulhijjah tahun 926 H.

Rujukan :

Ihya’ Ulumuddin (Imam Ghazali).

Bihar al-Wilayah al-Muhammadiyyah fi Manaqib A’lam al-Sufiyyah (DR. Jaudah M Abu al-Yazid al-Mahdi).

Husnul Muhadlarah (Imam Suyuthi).

Syahsiyyat Istauqafatni (DR Said al-Bouti).

Al-Kaukab al-Dzurriyyah (al-Munawi).

Mursyid al-Zuwwar ila Qubur al-Abrar (Muhammad Fathi Abu Bakr).

Masajid Misr wa Auliya’uhu al-Shalihin (DR. Suad Mahir)

Ahad, Mac 28, 2010

Zunnun al-Misri, Sang Wali Yang Haus Hikmah

Sufi agung yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama lengkap al-Imam al-A'rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim, dan terkenal dengan Zunnun al-Misri. Kendati demikian besar nama yang disandangnya namun tidak ada catatan sejarah tentang kapan kelahirannya.

Perjalanan menuju Mesir

Waliyullah yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di propinsi Suhaj). Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Sebagaimana lazimnya para sufi, ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Allah mencari jati diri, menggapai cinta dan ma'rifatulah yang hakiki.
Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Allah ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta. Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya pada orang di sampingnya : "ada apa ini?". Orang tersebut menjawab : Itu sebuah pesta perkawinan. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi musik ". Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka. "Fenomena apa lagi ini ?" begitu pikir sang wali. Iapun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang tersebut menjawab : "Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meningal. Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga ". Di sana ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu : "Ya Allah aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini. Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cobaan tapi tidak bersabar ". Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itu menuju ke Mesir (sekarang Kairo).

Perjalanan ke dunia tasawuf
Banyak cara kalau Allah berkehendak menjadikan hambanya menjadi kekasihnya. Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi pada Dzunnun al-Misri. Bukan wali yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pula seorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam hakikat. Tapi seekor burung lemah tiada daya.

Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya "Wahai Abu al-Faidl !" begitu ia memanggil demi menghormatinya "Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT ? ". "Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu". Begitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki. Al-Maghriby semakin penasaran "Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku" lalu Dzunnun berkata : "Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkum berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad : "Cukup… aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah SWT. Akupun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku".


Perjalanan ruhaniah
Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika politisi tak jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufipun selalu haus dengan kedekatan lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kenyamanan yang berbeda. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama.
Maka demikianlah, Dzunnun al-Misri tidak puas dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para wali, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah.
Suatu malam, tatkala Dzunnun bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengarungi samudera kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan. Dalam senyap laki-laki itu berdoa "Ya Allah Engkau mengetahui bahwa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapi tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar, sementara aku tahu kelapangan rahmatmu. Tuhanku… Engkaulah yang memberi keistimewaan pada hamba-hamba pilihan-Mu dengan kesucian ikhlas. Engkaulah Zat yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya' dari datangnya kebimbangan. Engkaulah yang menentramkan para wali, Engkau berikan kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal. Engkau jaga mereka dalam pembaringan mereka, Engkau mengetahui rahasia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-Mu. Aku di hadapan-Mu adalah orang lara tiada asa ". Dengan khusyu' Dzunnun menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut. Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang wali ini.
Di saat yang lain ia bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng gunung Muqottom. " Aku harus menemuinya " begitu ia bertekad kemudian. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan iapun bisa menemukan kediaman lelaki misterius. Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualitas dan saling tukar pengetahuan. Suatu ketika Dzunnun bertanya : "Apakah keselamatan itu?". Orang tersebut menjawab "Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Muroqobah (mengevaluasi diri)". "Selain itu ?". pinta Dzunnun seperti kurang puas. "Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!". "Selain itu ?" pinta Dzunnun lagi. "Ketahuilah Allah mempunyai hamba-hamba yang mencintai-Nya. Maka Allah memberikan segelas minuman kecintaan. Mereka itu adalah orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedang haus". Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun al-Misri dalam kedahagaan yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi.

Kealiman Dzunnun al-Misri
Betapa indahnya ketika ilmu berhiaskan tasawuf. Betapa mahalnya ketika tasawuf berlandaskan ilmu. Dan betapa agungnya Dzunnun al-Misri yang dalam dirinya tertata apik kedalaman ilmu dan keindahan tasawuf. Nalar siapa yang mampu membanyah hujjahnya. Hati mana yang mampu berpaling dari untaian mutiara hikmahnya. Dialah orang Mesir pertama yang berbicara tentang urutan-urutan al-Ahwal dan al-Maqomaat para wali Allah.
Maslamah bin Qasim mengatakan "Dzunnun adalah seorang yang alim, zuhud wara', mampu memberikan fatwa dalam berbagai disiplin ilmu. Beliau termasuk perawi Hadits ". Hal senada diungkapkan Al-Hafidz Abu Nu'aim dalam Hilyah-nya dan al-Dzahabi dalam Tarikh-nya bahwasannya Dzunnun telah meriwayatkan hadits dari Imam Malik, Imam Laits, Ibn Luha'iah, Fudail ibn Iyadl, Ibn Uyainah, Muslim al-Khowwas dan lain-lain. Adapun orang yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah al-Hasan bin Mus'ab al-Nakha'i, Ahmad bin Sobah al-Fayyumy, al-Tho'i dan lain-lain. Imam Abu Abdurrahman al-Sulamy menyebutkan dalam Tobaqoh-nya bahwa Dzunnun telah meriwayatkan hadis Nabi dari Ibn Umar yang berbunyi " Dunia adalah penjara orang mu'min dan surga bagi orang kafir".
Di samping lihai dalam ilmu-ilmu Syara', sufi Mesir ini terkenal dengan ilmu lain yang tidak digoreskan dalam lembaran kertas, dan datangnya tanpa sebab. Ilmu itu adalah ilmu Ladunni yang oleh Allah hanya khusus diberikan pada kekasih-kekasih-Nya saja.

Karena demikian tinggi dan luasnya ilmu sang wali ini, suatu ketika ia memaparkan suatu masalah pada orang di sekitarnya dengan bahasa Isyarat dan Ahwal yang menawan. Seketika itu para ahli ilmu fiqih dan ilmu 'dhahir' timbul rasa iri dan dan tidak senang karena Dzunnun telah berani masuk dalam wilayah (ilmu fiqih) mereka. Lebih-lebih ternyata Dzunnun mempunyai kelebihan ilmu Robbany yang tidak mereka punyai. Tanpa pikir panjang mereka mengadukannya pada Khalifah al-Mutawakkil di Baghdad dengan tuduhan sebagai orang Zindiq yang memporak-porandakan syari'at. Dengan tangan dirantai sufi besar ini dipanggil oleh Khalifah bersama murid-muridnya. "Benarkah engkau ini zahidnya negeri Mesir?". Tanya khalifah kemudian. "Begitulah mereka mengatakan". Salah satu pegawai raja menyela : " Amir al-Mu'minin senang mendengarkan perkataan orang yang zuhud, kalau engkau memang zuhud ayo bicaralah".

Dzunnun menundukkan muka sebentar lalu berkata "Wahai amiirul mukminin…. Sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yang menyembahnya dengan cara yang rahasia, tulus hanya karena-Nya. Kemudian Allah memuliakan mereka dengan balasan rasa syukur yang tulus pula. Mereka adalah orang-orang yang buku catatan amal baiknya kosong tanpa diisi oleh malaikat. Ketika buku tadi sampai ke hadirat Allah SWT, Allah akan mengisinya dengan rahasia yang diberikan langsung pada mereka. Badan mereka adalah duniawi, tapi hati adalah samawi…….".
Dzunnun meneruskan mauidzoh-nya sementara air mata Khalifah terus mengalir. Setelah selesai berceramah, hati Khalifah telah terpenuhi oleh rasa hormat yang mendalam terhadap Dzunnun. Dengan wibawa khalifah berkata pada orang-orang datang menghadiri mahkamah ini : "Kalau mereka ini orang-orang Zindiq maka tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini". Sejak saat itu Khalifah al-Mutawaakil ketika disebutkan padanya orang yang Wara' maka dia akan menangis dan berkata "Ketika disebut orang yang Wara' maka marilah kita menyebut Dzunnun".

Pujian para ulama' terhadap Dzunnun
Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun al-Misri menjadi lebih terpuji. Sebab apa yang dia harapkan dari pujian makhluk sendiri ketika Yang Maha Sempurna sudah memujinya. Apa artinya sanjungan berjuta manusia dibanding belaian kasih Yang Maha Penyayang ?. Dan hanya dengan harapan semoga semua menjadi hikmah dan manfaat bagi semua paparan berikut ini hadir.
Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan "Dzunnun adalah orang yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada bandingannya. Ia sempurna dalam Wara', Haal, dan adab". Tak kurang Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al-Jalak mengatakan "Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak menemukan seperti keempat orang ini : Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan Abu Abid al-Basry". Seperti berlomba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh Muhiddin ibn Araby Sulton al-Arifin dalam hal ini mengatakan "Dzunnun telah menjadi Imam, bahkan Imam kita".
Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata. Imam al-Munawi dalam Tobaqoh-nya bercerita : “Sahl al-Tustari (salah satu Imam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun tidak duduk maupun berdiri bersandar pada mihrab. Ia juga seperti tidak berani berbicara. Suatu ketika ia menangis, bersandar dan bicara tentang makna-makna yang tinggi dan Isyaraat yang menakjubkan. Ketika ditanya tentang ini, ia menjawab "Dulu waktu Dzunnun al-Misri masih hidup, aku tidak berani berbicara tidak berani bersandar pada mihrab karena menghormati beliau. Sekarang beliau telah wafat, dan seseorang berkata padaku padaku : berbicaralah!! Engkau telah diberi izin".

Cinta dan ma'rifat
Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang : "Dengan apa Tuan mengetahui Tuhan?". "Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku ",jawab Dzunnun. "kalau tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku". Lebih jauh tentang ma'rifat ia memaparkan : "Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang paling bingung tentang-Nya". "Ma'rifat bisa didapat dengan tiga cara: dengan melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat keputusan-keputusan-Nya, bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan merenungkan makhluq, bagaimana Allah menjadikannya".
Tentang cinta ia berkata : "Katakan pada orang yang memperlihatkan kecintaannya pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan sampai merendah pada selain Allah!. Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah dia tidak punya kebutuhan pada selain Allah". "Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, perbuatan, perintah dan sunnah-sunnahnya". "Pangkal dari jalan (Islam) ini ada pada empat perkara: “cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana, mengikuti pada Alquran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam kesesatan)".

Karomah Dzunnun al-Misri
Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami' al-karamaat “ mengatakan: “Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika aku menghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku "engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira". Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai kota Balkh (kota di Iran).
Suatu hari Abu Ja'far ada di samping Dzunnun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun mengatakan "Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya". Maka ranjang itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya.

Imam Abdul Wahhab al-Sya'roni mengatakan: “Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzunnun lalu berkata "Anakku telah dimangsa buaya". Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang ke sungai Nil sambil berkata "Ya Allah… keluarkan buaya itu". Lalu keluarlah buaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata "Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku bertaubat kepada Allah SWT".

Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar, Zunnun al-Misri yang wafat pada tahun 245 H. Semoga Allah meredhainya.


Sufyan Bin Uyainah, Kunikahi Dia Kerana Agamanya

Ulama tabiut tabiin ini dilahirkan pada tahun 107H pada pertengahan Syawal. Nasab lengkapnya, Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran al-Kufi. Dia dikenal dengan panggilan Abu Muhammad.

Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al-Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gabenor Iraq dan digantikan oleh Yusuf bin Umar at-Tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para pekerja pada masa pemerintahan Khalid, sehingga mereka berlarian untuk menyembunguikan diri. Uyainah, ayah Sufyan, melarikan diri sampai ke kota Makkah dan akhirnya memutuskan menetap disana.

Menuntut Ilmu Dengan Ulama

Ketika ia meningkat usia 15 tahun, ayahnya memanggilnya, seraya berpesan: “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahawa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata kejelekan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati kesendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prsangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.

Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.

Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu agama. Tepatnya pada tahun 119H.

Ibnu Uyainah mengisahkan tentang dirinya: ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.

Dia menceritakan: ”Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.

Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak 80 ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinas, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.

Menjadi Sumber Rujukan

Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”

Tak sia-sia, berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi peribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi sumber rujukan dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.

Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Abu Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan isteriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.

Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala hairan dan kemudian berujar: ”Mungkin, keadaan itu muncul kerana engkau menikahainya untuk meraih kehormatan?”

Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Abu Muhammad”.

Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi kerana mencari kehormatan, nescaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, nescaya akan diuji dengan kefakiran. Barangsiapa bergerak kerana dorongan agama, nescaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama agamanya”.

Kunikahi Dia Kerana Agamanya

Berikutnya, Sufyan mulai berkisah:

”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah abang sulung., Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi kedudukannya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.

Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.

Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berdiskusi dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadis Yahya bin Ja’daj dan hadits Aisyah.

Hadis Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, iaitu sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

”Wanita dinikahi kerana empat perkara: Kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Carilah wanita yang beragama, nescaya kamu akan beruntung”.

Sedangkan hadis Aisyah, Nabi shallallahu alaIhi wa sallam bersabda :

Wanita yang paling besar berkahnya adalah wanita yang paling ringan beban pembiayaannya”

Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din dan beban yang ringan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alahi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.

Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al-Khaliq, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kata-Kata Hikmahya

Sufyan bin Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan: Wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.

Sufyan bin Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, perumpamaan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, nescaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.

Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata: ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan kejelekan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui kejelekan dan menjauhinya”.

Wafatnya

Sufyan bin Uyainah wafat pada hari Sabtu, 1 Rejab 198H.

Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di syurgaNya yang tertinggi.

(Terjemahan dari bahasa Indonesia oleh M.A.Uswah dengan sedikit perubahan)

Rujukan:
Majalah As-Sunnah,
Edisi 1426H/2005M, Indonesia yang diambil rujukannya dari Tahdzibul Kamal fi Asma-i ar Rijal (3/223-228) karya al-Hafiz Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf al-Mizzi, tahqiq Basyyar Awwad Ma’ruf, Muassasah ar-Risalah, Cetakan 1, 1418H–1998M

Ahad, Mac 28, 2010

Syeikh Abul Hasan Ali An-Nadwi, Zuhud Yang Berjiwa Sufi

Syeikh Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi merupakan seorang ulama dan pemikir Islam yang ulung. Beliau dilahirkan pada 6 Muharram 1333H / 23 November 1914M di Takia Kala, Rae Berily, India. Nama sebenar beliau ialah Ali bin Abdul Hayy bin Fakhruddin bin Abdul Aliy al-Hasani. Nasabnya sampai kepada Hasan bin Ali bin Abi Talib r.a. Beliau amat bertuah kerana dilahirkan dan dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang amat berpegang teguh dengan ajaran Islam. Ayahnya Sayyid Abdul Hayy seorang ulama di India manakala ibunya juga seorang pendidik dan hafaz al Quran serta syair-syair sejarah Islam dalam bahasa Urdu.

Dilahirkan dalam keluarga yang mementingkan ilmu, tidak hairanlah minat membaca beliau terserlah sejak kecil lagi. Beliau gemar mengumpul kitab dan mempunyai satu sudut bacaan sendiri yang dinamakan sebagai Maktabah Abil Hasan Ali (Perpustakaan Abul Hasan Ali).

Sejak kecil juga Syeikh Abul Hasan telah didik dengan pelbagai ilmu pengetahuan meliputi bahasa Arab, nahu, syair, sastera Arab, tafsir, fiqh, hadis dan sebagainya. Ramai dikalangan gurunya datang dari India dan ada juga di antara mereka yang datang dari Madinah. Diperingkat awal, beliau hanya belajar di rumah dan di madrasah Nadwatul Ulama. Setelah itu beliau mengorak langkah keperingkat yang lebih tinggi di Universiti Lucknow dan di sini, beliau telah berjaya mencapai kecemerlangan tertinggi dalam bidang Bahasa Arab. Kemudian beliau meneruskan lagi pengembaraan ilmunya hingga membawa beliau ke Lahore. Di sinilah dia bertemu dengan seorang sarjana dan pemikir agung dunia Islam iaitu Dr. Muhammad Iqbal. Kekaguman beliau dengan karya-karya Iqbal mendorong beliau untuk menterjemahkan beberapa syair Iqbal daripada Bahasa Urdu kepada Bahasa Arab, walaupun usianya pada ketika itu hanya sekitar 15 tahun sahaja.

Sifat Peribadi

Peribadi Syeikh Abul Hasan sangat sederhana, zuhud, berlapang dada serta terpancar keikhlasan dakwahnya sehingga membuatkan beliau senang didampingi, tidak kira peringkat umur dan darjat seseorang manusia itu.

Beliau adalah seorang yang berperibadi zuhud dan tidak membezakan antara manusia dalam dakwahnya membuatkan ulama terkenal Mesir, Dr Yusuf al-Qaradhawi mengkagumi keperibadian beliau.

Dr Yusuf al-Qaradhawi berkata: "Saya mengenali keperibadiannya dan juga karya-karyanya. Saya mendapati pada dirinya hati seorang muslim yang sejati dan pemikiran Islam yang tulen. Saya mendapati beliau sentiasa hidup dengan Islam dan untuk Islam. Saya kira bukan saya seorang sahaja yang mencintainya tetapi semua orang yang mengenalinya pasti mencintainya, bahkan sesiapa yang lebih mengenalinya pasti akan bertambah kecintaan terhadapnya."

Dakwah dan Pendiriannya

Mencontohi pendekatan dakwah ulama’-ulama’ terdahulu seperti Imam As Sirhindi r.a dan Maulana Ilyas r.a, serta beberapa tokoh Islam yang agung, Syeikh Abul Hasan telah membawa suatu manhaj dakwah dan tarbiyah yang menyeluruh, dengan menggabung jalinkan beberapa manhaj dan pendekatan, menjadi suatu kombinasi di antara sistem lama yang berkat dengan sistem baru yang bermanfaat. Menurut beliau, kefahaman yang jitu terhadap dasar-dasar dakwah akan menjadikan seorang daie’ benar-benar berdakwah untuk Allah bukan untuk kepentingan peribadi atau selainnya. Prinsip yang perlu ada ialah berdakwah untuk kebaikan umat seluruhnya bukan untuk keuntungan kelompok atau diri sendiri. Dasar-dasar yang digariskan beliau dalam melaksanakan dakwah itu merupakan himpunan daripada dasar "At Tasallub Fi Al Usul" iaitu tegas pada prinsip dan "Al Murunah Fi Al Wasail" yakni anjal dalam perlaksanaan.

Usaha gigih Syeikh Abul Hasan dalam menyampaikan kalimah haq bukan sahaja dikagumi oleh dunia Islam malah mendapat pengiktirafan daripada masyarakat Barat khususnya di Eropah. Banyak undangan ceramah dan seminar yang beliau terima daripada institusi-institusi terkemuka di Eropah seperti di Geneva, Paris, Cambridge, Oxford, Glasgow, Edinburgh dan Sepanyol. Rata-rata dikalangan pendakwah dan mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, baik di Timur mahupun di Barat mengenali tokoh ini. Malah adakalanya walaupun tidak berkesempatan mengenali peribadi beliau secara langsung tetapi apabila kita membaca hasil-hasil karyanya kita akan merasakan seolah-olah beliau adalah guru kita yang duduk bersama-sama kita.

An-Nadwi juga begitu peka dengan sistem pendidikan dan banyak mengkritik golongan orientalis yang menyelewengkan fakta sebenar mengenai Islam. Dari segi faktor keagamaan, tujuan orientalis adalah menyebarkan agama Kristian dan menonjolkannya lebih daripada agama Islam. Di samping itu, mereka cuba membangkitkan rasa bangga terhadap mereka ke dalam jiwa anak-anak muda Islam. Dari segi politik, golongan orientalis adalah utusan barat ke negara-negara Islam dengan tujuan membuat penyelidikan yang berhubung dengan adat, bahasa, tabiat dan jiwa orang-orang timur. Melalui cara ini, barat dapat meluaskan kekuasaan dan pengaruhnya ke atas umat Islam. Walaupun begitu, ada juga golongan orientalis yang membuat penyelidikan semata-mata kerana rasa minat mereka terhadap ilmu. Menurut al-Nadwi, antara orientalis yang menghasilkan penyelidikan yang baik yang wajar diberi penghargaan ialah Prof. T.W. Arnold, pengarang buku Preaching of Islam, Stanley Lane pengarang buku Saladin (Salahuddin al-Ayubi) dan Moors in Spains, Dr. Aloys Spenger Edward William Lane, A.W.J- Wensinck, yang telah menyusun Mu‘ajam Hadith. Semua pengarang-pengarang ini menunjukkan keikhlasan mereka dalam membahaskan sesuatu isu tanpa dipengaruhi oleh faktor politik, ekonomi dan agama.

An-Nadwi telah memberi kritikan pedas terhadap golongan orientalis yang seharusnya direnung oleh pelajar-pelajar muslim yang lain. Beliau menyebut bahawa dengan mengakui sumbangan ilmu orientalis ini, tiada halangan baginya untuk menegaskan bahawa kaum orientalis ini sering tidak beroleh taufik dari Ilahi walaupun mereka banyak melakukan penyelidikan dan penggalian terhadap ilmu-ilmu al-Qur’an, sunnah, sirah nabi, feqah Islam, akhlak dan tasauf. Mereka hanya keluar dengan tangan hampa tanpa memperolehi apa-apa dari keimanan dan keyakinan. Sebaliknya didapati b
ertambah besar jurang yang memisahkan mereka dengan ilmu tersebut disebabkan oleh iktikad permusuhan yang terpendam dalam hati mereka. Tujuan mereka hanya ingin mencari kelemahan tentang Islam dan mengemukakannya untuk maksud politik mahupun keagamaan.

Menurut an-Nadwi, umat Islam sekarang menghadapi kejumudan pemikiran atau mendapnya kecerdasan akal yang menimpa sarjana Islam atau pusat-pusat pengajian Islam semenjak waktu yang lama. Begitu juga, jarang ditemui ulama yang dapat meyakinkan generasi muda mengenai keunggulan Islam dan keabdian ajaran agama untuk mereka melayari kehidupan serta menyingkap takbir kelemahan-kelemahan peradaban barat dan sorotan yang ilmiah dan analisa yang teliti.

Beliau turut menggariskan beberapa faktor yang menyebabkan fahaman ini dapat menawan jiwa orang-orang Islam. Antaranya ialah pertamanya kelemahan orang Islam dari sudut keimanan, ijtihad dan ilmu pengetahuan. Fikiran menjadi sempit dan keghairahan terhadap agama mereka telah lenyap sama sekali. Keduanya para ulama tidak memainkan peranan yang sebenar dan tidak pula berusaha untuk memimpin orang Islam lain terutama anak-anak muda Islam. Ketiganya penjajahan yang berlaku ke atas negara-negara umat Islam. Orang-orang Islam mengkagumi falsafah barat yang dianggap mengandungi kebenaran dan kemajuan.

An-Nadwi berpendapat bahawa jalan yang paling selamat dalam mendidik umat Islam ialah kembali beriman kepada Alllah sebagaimana Rasulullah dahulu telah melaksanakannya dengan begitu berkesan. Kemungkaran dan kerosakan adalah berpunca dari keengganan manusia untuk kembali kepada penawar dan rawatan nubuwwah. Hanya dengan kembali kepada bentuk didikan di atas sahajalah manusia masa kini dapat diselamatkan sebagaimana manusia pada zaman dahulu diselamatkan oleh Rasulullah. Oleh itu, beliau menyarankan umat Islam kembali kepada acuan madrasah kerasulan.

An-Nadwi menggunakan manhaj dakwah dengan berteraskan kepada al-Quran kemudian hadith dan sirah serta kisah-kisah para sahabat. Ini jelas terbukti dalam bukunya Rawa’i min adab al-da’wah yang mana beliau mengambil contoh-contoh dakwah para nabi-nabi yang bersumberan al-Quran dan al-Hadith.Di samping itu, beliau mengakui manhaj itu mungkin berbeza dari satu tempat dari satu tempat yang lain kerama dakwah mesilah mengambil kira masalah lingkungan , sausana dan persekitaran. Oleh itu, dakwah yang berkesan ialah dakwah yang mengambilkira realiti yang ada. Di samping itu, pendekatan hikmah dan bijaksana perlu diberi perhatian.al-Nadwi juga menyarankan memahami al-Quran dengan mendalam, sejarah dakwah dan tokoh-tokoh dakwah serta adab-adab Islam. Kebanyakan bidang tersebut telah ditulisnya untuk penyediaan kepada para pendakwah.

Karya Yang Membuka Mata Dunia

Siapa yang tidak terkesan bila mana membaca karya agung beliau berjudul "Apakah Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam" yang pernah pada suatu ketika menggoncang hati para pemimpin dan ulama’ di dunia Arab. Hingga sekarang karya yang berusia lebih 50 tahun itu, tetap menjadi rujukan umat seluruh dunia malah telah diterbitkan dalam berbagai-bagai bahasa seperti Inggeris, Parsi, Urdu, Arab, Hindi, Melayu dan lain-lain. Beliau telah berjaya membuka pandangan sempit pemimpin dunia Islam yang menganggap bahawa kekayaan material yang dimiliki oleh masyarakat Eropah adalah segala-galanya sedangkan mereka di sana telah bankrap dari segi pemikiran dan kerohanian. Dengan pandangannya yang tajam, Syeikh Abul Hasan an-Nadwi berjaya membawa suatu natijah yang berguna untuk mengeluarkan umat manusia daripada kongkongan hidup jahiliyah moden kepada naungan Islam yang sebenar. Sebagaimana yang beliau nukilkan bahawa hanya umat Islam sahaja yang layak untuk mentadbir dan mengatur dunia ini, tanpa Islam dunia akan menghadapi penderitaan dan kerugian walaupun manusia memiliki segala kecanggihan dan kemudahan hidup.

Dijemput Ilahi

Setelah hampir tiga suku usianya dihabiskan dengan perjalanan ilmu dan dakwah, menyeru umat Islam agar kembali teguh kepada al-Quran dan sunnah, maka pada tengah hari Jumaat, 23 Ramadhan 1420H / 31 Disember 1999M, beliau telah dijemput Allah SWT pulang ke sisiNya ketika sedang bersiap-siap untuk menghadiri solat Jumaat di kediamannya, ketika usianya mencecah 85 tahun. Sebagai mengenang jasa beliau yang telah dicurahkan untuk kepentingan agama, maka telah diadakan solat jenazah ghaib di dua tanah suci iaitu di Masjidil Haram di Makkah al Mukarramah dan di Masjid Nabawi di Madinah al Munawwarah pada malam 27 Ramadhan 1420H.

Pemergiannya dirasakan sebagai suatu kehilangan permata yang amat berharga. Perjuangan dakwahnya yang tidak mengenal noktah itu, seharusnya menjadi contoh dan ikutan oleh generasi kini. Beliau pernah berpesan kepada generasi muda bahawa belia-belia Islam yang bakal memimpin umat pada masa akan datang sangat perlu diisikan dengan ilmu, tazkiyah ruhiyah, semangat juang dan sifat zuhud dari dunia. Kalau tidak, akan dibimbangi mereka akan kecundang dalam menghadapi cabaran akhir zaman. Kepetahan lidah dalam berucap dan keluasan ilmu belum dapat memberi kesan yang terbaik kalau tidak disertai dengan kekuatan rohani yang mantap.

Selamat jalan wahai mujahid. Semoga Allah SWT mencucuri rahmat yang luas ke atasmu dan semoga engkau bersama-sama dengan para anbiya’, auliya’ dan para kekasih Allah. Amin.

Susunan:
M.A.Uswah,

Sandakan,
20 Oktober 2008.

Rujukan:
- Majalah Al-Islam, bulan Januari 2005.
- http://imamdesa.blogsome.com/2006/06/14/11
- http://www.mindamadani.my/content/view/178/2

Ahad, Mac 28, 2010

Ibnu Hazm, Ulama Yang Sibuk Bercinta

Ibnu Hazm pernah jatuh cinta sebanyak tiga kali. Cintanya yang pertama ia tumpahkan kepada jariat (pembantunya) lalu menikahinya ketika Ibnu Hazm berusia di bawah 20 tahun.

Ketika isterinya yang lebih muda darinya itu meninggal dunia, ia larut dalam kesedihan dan menangis berbulan-bulan, walaupun seperti pengakuannya ia adalah orang yang sulit mencucurkan air mata.

Ia jatuh sakit sekian lama, bahkan kehilangan sebahagian ingatannya, walaupun kemudian sembuh.

“Demi Allah, hingga kini aku tidak pernah lagi merasa bahagia. Kehidupan setelah kepergiannya tidak nyaman lagi. Aku terus mengenangnya dan tidak lagi menemukan kesenangan dari selainnya.”

Sekali lagi, dengan demikian, Ibnu Hazm sendiri sibuk dalam cinta sepanjang hidupnya, sebagaimana ia disibukkan oleh ilmu-ilmu agama semacam fiqih (hukum Islam), tafsir, hadis dan teologi, bukan hanya perempuan sebagaimana tulisnya.

Ibnu Hazm menulis bahawa, “Cinta awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Dia tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya, syariat pun tidak melarangnya.”

“Ketika masih remaja, aku jatuh cinta kepada seorang gadis berambut pirang. Sejak itu aku tidak mengagumi gadis berambut hitam, meski pemiliknya berada di matahari atau sangat molek. Itu kecenderunganku sejak saat itu. Diriku tidak pernah mengagumi lagi kecuali rambut pirang. Itu pula kecenderungan ayahku.”

Kalimat di atas merupakan pengakuan filosof dan ulama besar dunia, Ibnu Hazm. Lewat karyanya yang berjudul Tauqul Hamamah (Di Bawah Naungan Cinta). Ibnu Hazm berhasil menjadikan dirinya sasterawan yang cukup disegani. Bukunya ini menjadi buku terlaris sepanjang abad pertengahan. Buku itu tidak hanya menarik bagi umat Islam, tetapi juga bagi kaum Nasrani di Eropah.

Padahal Ibnu Hazm dikenal sebagai salah satu ulama tersohor di abad pertengahan. Ayahnya dikenal sebagai salah seorang menteri pada zaman Khalifah al-Manshur.

Menurut penuturan Ibnu Hazm, cinta pertamanya bersemi ketika ia berusia 18 tahun. Sementara gadis pujaannya yang berambut pirang berumur 16 tahun. Gadis itu dikaguminya sampai habis. Ia mengatakan bahawa pujaannya itu seorang yang cantik, bertabiat baik, dan bertubuh sintal. Si gadis pun pandai bernyanyi dan memetik kecapi, yang menjadi kebiasaan kala itu.

Ibnu Hazm tergila-gila. Setiap hari selalu menanti gadis itu lewat di depan pintu rumahnya. Begitu gadis itu muncul, Ibnu Hazm langsung menguntitnya. Seperti kisah remaja pada umumnya, kisah cinta Ibnu Hazm penuh dengan romantika. Jika dikejar, si gadis berlalu dengan malu-malu dan rona wajahnya memerah. Tentang perilakunya yang terbuai itu Ibnu Hazm menulis, “Saya ingat benar bagaimana ketika saya selalu pergi ke ruangan tempat ia tinggal. Rasanya saya selalu ingin menuju pintu itu agar bisa dekat dengannya. Begitu ia melihat saya di dekat pintu, dengan gerakan lemah gemulai ia pergi ke tempat lain. Saya pun menguntitnya sampai ke pintu ruangan tempat ia berada.”

Ibnu Hazm, sebagaimana semua ulama dan agamawan, menyatakan bahawa cinta yang terbesar adalah cinta kepada Allah dan cinta antara sesama manusia yang dijalin kerana Allah swt. Cinta antara sesama manusia, antara lain cinta antara lawan jenis, jika terjalin kerana Allah, pasti diliputi oleh kesetiaan dan kesucian.

Ibnu Hazm al-Andalusi, seorang pakar hukum Islam menulis pengalaman peribadinya antara lain: “Seandainya bukan kerana keyakinan bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan negeri kekeruhan, sedangkan syurga adalah tempat peroleh ganjaran, kita akan berkata bahawa hubungan harmonis antara kekasih merupakan kebahagiaan tanpa kekeruhan, kegembiraan tanpa kesedihan, kesempurnaan cinta dan puncak harapan.”

Selanjutnya, ulama besar itu berkata: “Aku telah merasakan kelazatan dengan aneka ragamnya. Aku juga telah meraih keberuntungan dengan segala macamnya. Tidaklah kedekatan kepada penguasa, tidak juga wujud setelah ketiadaan, atau kembali ke pangkuan setelah bepergian jauh, dan tidak juga rasa aman setelah mengalami rasa takut, atau perolehan harta yang dimanfaatkan, tidaklah semua itu, seindah hubungan harmonis/asmara dengan kekasih/lawan jenis kita.

Memandang Cinta

Menurut Ibnu Hazm, cinta itu sulit diuraikan. Tetapi pada orang yang jatuh cinta terdapat pertanda.

Pertama, kecanduan memandang orang yang dikasihi.

Kedua, segera menuju ke tempat kekasih berada, sengaja duduk di dekatnya dan mendekatinya.

Ketiga, gelisah dan gugup ketika ada seseorang yang mirip dengan orang yang dicintainya.

Keempat, kesediaan untuk melakukan hal-hal yang sebelumya enggan dilakukannya

Adapun yang mencoreng cinta menurut Ibnu Hazm adalah berbuat maksiat dan mengumbar hawa nafsu.

Cinta Di Mata Seorang Ulama

Akan menghinalah mereka yang tak mengenal cinta
Sungguh cintamu padanya wajar adanya
Mereka kata, cinta buat kau gila
Padahal kau orang paling faham agama

Ku katakan pada mereka
Mengapa kalian iri padanya?
Jawabnya
Kerana ia mencinta dan dicintai pujaan jiwa

Bila masanya Muhammad mengharamkan cinta
Dan apakah ia menghina umatnya yang jatuh cinta
Janganlah kau berlagak mulia
Dengan menyebut cinta sebagai dosa

Janganlah kau pedulikan apa kata orang tentang cinta
Entah yang berkata keras atau halus biasa
Bukankah manusia harus menetapi pilihannya
Bukankah kata tersembunyi tak bererti diam seribu bahasa

Syair ini dikutip dari kitab Tauqul Hamamah karya Ibnu Hazm al-Andalusi

Selasa, Oktober 14, 2008

Buah Cinta Berasas Takwa

Inilah kisah indah percintaan seorang tabi’in mulia. Namanya Mubarak.

Dulu, Mubarak itu seorang hamba. Tuannya memerdekakannya kerana keluhuran pekerti dan kejujurannya. Setelah merdeka ia bekerja pada seorang kaya raya yang memiliki kebun delima yang cukup luas. Ia bekerja sebagai penjaga kebun itu. Keramahan dan kehalusan tutur sapanya, membuatnya disenangi semua temannya dan penduduk di sekitar kebun.

Suatu hari pemilik kebun itu memanggilnya dan berkata: “Mubarak, tolong petikkan buah delima yang manis dan masak!”

Mubarak seketika itu bergegas ke kebun. Ia memetikkan beberapa buah dan membawanya pada Tuannya. Ia menyerahkan pada Tuannya. Majikannya mencuba delima itu dengan penuh semangat. Namun apa yang terjadi, ternyata delima yang dipetik Mubarak rasanya masam dan belum masak. Ia mencuba satu persatu dan semuanya tidak ada yang manis dan masak..

Pemilik kebun itu gusar dan berkata: ”Apakah kau tidak dapat membezakan mana yang masak dan yang belum masak? Mana yang manis dan mana yang masam?”

“Maafkan saya Tuan, saya sama sekali belum pernah merasakan delima. Bagaimana saya boleh merasakan yang manis dan yang kecut,” jawab Mubarak.

“Apa? Kamu sudah sekian tahun bekerja di weesini dan menjaga kebun delima yang luas yang telah berpuluh kali berbuah dan kau katakan belum merasakan delima. Kau berani berkata seperti itu!” Pemilik kebun itu marah merasa dipermainkan.

“Demi Allah Tuan, saya tidak pernah memetik satu butir buah delima pun. Bukankah anda hanya memerintahkan saya menjaganya dan tidak memberi izin pada saya untuk memakannya?” lirih Mubarak.

Mendengar ucapan itu pemilik kebun itu tersentak. Namun ia tidak langsung percaya begitu saja. Ia lalu pergi bertanya kepada teman-teman Mubarak dan tetangga disekitarnya tentang kebenaran ucapan Mubarak. Teman-temannya mengakui tidak pernah melihat Mubarak makan buah delima. Juga tetangganya.

Seorang temannya bersaksi: “Ia seorang yang jujur, selama ini tidak pernah berbohong. Jika ia tidak pernah makan satu buah pun sejak bekerja disini bererti itu benar.”

***

Kejadian itu benar-benar menyentuh hati sang pemilik kebun. Diam-diam ia kagum dengan kejujuran pekerjanya itu.

Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali memanggil Mubarak:

“Mubarak, sekali lagi, apakah benar kau tidak makan satu buah pun selama menjaga kebun ini?”

“Benar Tuan.”

“Berilah aku alasan yang boleh aku terima!”

“Aku tidak tahu apakah Tuan akan menerima penjelasanku apa tidak. Saat aku pertama kali datang untuk bekerja menjaga kebun ini, Tuan mengatakan tugas saya hanya menjaga. Itu aqadnya. Tuan tidak mengatakan aku boleh merasakan delima yang aku jaga. Selama ini aku menjaga agar perutku tidak dimasuki makanan yang syubhat apalagi haram. Bagiku kerana tidak ada izin yang jelas dari Tuan, maka aku tidak boleh memakannya.”

“Meskipun itu delima yang jatuh di tanah, Mubarak?”

“Ya, meskipun delima yang jatuh ditanah. Sebab itu bukan milikku, tidak halal bagiku. Kecuali jika pemiliknya mengizinkan aku boleh memakannya.”

Kedua mata pemilik kebun itu berkaca-kaca. Ia sangat tersentuh dan terharu. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan dan berkata,

“Hai Mubarak, aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurutmu aku mengahwinkannya dengan siapa?”

Mubarak menjawab:

“Orang-orang Yahudi mengahwinkan anaknya dengan seseorang kerana harta. Orang Nasrani mengahwinkan kerana keindahan. Dan orang Arab mengahwinkan kerana nasab dan keturunannya. Sedangkan orang Muslim mengahwinkan anaknya pada seseorang kerana melihat iman dan taqwanya. Anda tinggal memilih, mahu masuk golongan yang mana? Dan kahwinkanlah puterimu dengan orang yang kau anggap satu golongan denganmu.”

Pemilik kebun berkata: ”Aku rasa tak ada orang yang lebih bertakwa darimu.”

Akhirnya pemilik kebun itu mengahwinkan puterinya dengan Mubarak. Puteri pemilik kebun itu ternyata gadis cantik yang solehah dan cerdas. Ia hafal kitab Allah dan mengerti sunnah NabiNya. Dengan kejujuran dan ketaqwaan, Mubarak memperoleh nikmat yang agung dari Allah SWT. Ia hidup dalam syurga cinta. Dari percintaan pasangan mulia itu lahirlah seorang anak lelaki yang diberi nama “Abdullah”. Setelah dewasa anak ini dikenal dengan sebutan “Imam Abdullah bin Mubarak” atau “Ibnu Mubarak”, seorang ulama di kalangan tabi’in yang sangat terkenal. Selain dikenali sebagai ahli hadis, Imam Abdullah bin Mubarak juga dikenali sebagai ahli zuhud. Kedalaman ilmu dan ketaqwaannya banyak diakui ulama pada zamannya.

Dipetik dari:
Di Atas Sajadah Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, terbitan Ar-Risalah Product Sdn Bhd, Kuala Lumpur, cetakan ketiga Mei 2008.

Ahad, Mac 28, 2010

Imam Nawawi, Makan Sedikit, Tidur Pun Sedikit

Ketika kanak-kanak lain seusianya sibuk bermain, budak lelaki berusia 10 tahun itu mengelak. Walaupun diajak kawan-kawannya itu, dia tetap menolak, sebaliknya dia sibuk membaca al-Quran. Jarang budak lelaki seusia itu tidak berminat untuk bermain, tetapi dia lain, walau dipaksa kawan-kawan pun dia tidak menunjukkan minat.

Melihat tingkah lakunya, seorang alim, Syeikh Yasin Yusuf Marakashi memberitahu gurunya, “Jagalah budak ini baik-baik kerana dia bakal menjadi seorang ulama besar dan ahli ibadah.” Guru yang mendengar kata-kata Syeikh Yasin itu bertanya, “Adakah tuan seorang ahli nujum atau penilik nasib?” Jawab Syeikh Yasin, “Bukan, tetapi Allah menghendaki aku mengeluarkan kata-kata itu.

Guru tersebut kemudian menceritakan insiden itu kepada bapa anak muridnya. Bapa budak itu pula memang ingin anak lelakinya yang begitu ghairah belajar, mengabdikan dirinya kepada agama Islam.

Terbukti budak lelaki itu bukanlah seorang insan biasa, tetapi Abu Zakaria Muhyiddin Yahya atau lebih dikenali sebagai Imam Nawawi. Nama tersebut digunakan kerana beliau berasal dari Nawa, yang terletak berdekatan Damsyik, di pinggir daerah Hauran.

Imam Nawawi dilahirkan di sana pada Muharram 631H dan bapanya adalah seorang alim yang menyedari kelebihan anaknya itu sejak kecil lagi. Malangnya Nawa bukanlah tempat yang sesuai untuk anaknya mengembangkan ilmu dan bakatnya kerana tempat itu tidak mempunyai akademi atau institusi pengajian agama.

Menimba Ilmu

Jadi bapanya membawa Imam Nawawi ke Damsyik yang ketika itu terkenal sebagai pusat pengajian dan ilmu, serta menjadi tumpuan pelajar dari serata tempat. Damsyik sudah pun mempunyai lebih 300 institut, kolej dan universiti dan Imam Nawawi belajar di Madrasah Rawahiyah yang bergabung dengan Universiti Ummvi. Pengasasnya ialah seorang saudagar bernama Zakiuddin Abul Qassim, yang juga dikenali Ibnu Rawahah.

Di madrasah inilah Imam Nawawi menimba ilmu daripada guru-guru terkenal selama dua tahun tanpa mengenal penat lelah. Pihak madrasah hanya menampung sedikit makan minumnya, tetapi itu sudah mencukupi bagi Imam Nawawi. Itu bukanlah satu keperluan yang amat dipentingkannya, malah tidur pun dihadkan sedikit sahaja pada waktu malam. Baginya masa adalah sesuatu yang amat berharga, apabila keletihan, dia akan berehat sebentar sahaja di hadapan kitab-kitabnya, sebelum meneruskan pelajarannya.

Guru-Guru Beliau

Di Damsyik, Imam Nawawi berguru dengan lebih 20 ulama. Sesetengah mereka terkenal sebagai pakar dalam bidang masing-masing. Beliau mempelajari ilmu hadis, perundangan Islam dan pelbagai ilmu lain daripada ulama-ulama terkenal waktu itu, antaranya, Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Maghribi, Abu Muhammad Abdurrahman bin Ibrahim al-Fazari, Abul-Abbas Ahmad bin Salim al-Misri, Abu Abdullah al-Jiyani, Abu Muhammad at-Tanukhi dan ramai lagi.

Sifat Peribadi

Sikap Imam Nawawi terhadap ilmu memang jarang terdapat pada orang lain. Beliau sentiasa dahagakan ilmu dan dalam amalan seharian, dia akan membaca 12 bab, menulis ulasannya dan membuat penambahan-penambahan penting. Apa jua buku yang ditelaahnya, dia akan membuat nota dan penerangan mengenainya.

Sikap ini, kecerdikan, usaha keras dan kecintaannya terhadap pelajaran mendapat pujian daripada gurunya. Mana tidaknya, beeliau memperuntukkan sepenuh masanya untuk mendalami ilmu. Selain membaca dan menulis, beliau memperuntukkan masa untuk berfikir mengenai isu-isu yang kompleks dan mencari rumusannya.

Kelebihan daya ingatan tinggi dan ketajaman fikiran yang dikurniakan Allah SWT kepadanya digunakan sepenuhnya oleh Imam Nawawi sehingga mencapai tahap keilmuan yang amat membanggakan.

Selain itu, beliau juga disenangi kerana keindahan budi dan akhlak, serta dikenali sebagai seorang yang warak. Imam Nawawi gemar berpakaian sederhana dan hanya mekan sedikit sahaja. Beliau tidak mudah leka dengan hal-hal keduniaan sebaliknya memberi sepenuh tumpuan untuk mencari dan menyebarkan ilmu. Bagaimanapun Imam Nawawi tidak menjauhkan diri daripada masyarakat, malah beliau mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan ilmuan pada zamannya.

Beliau seorang yang begitu bertaqwa menurut erti kata sepenuhnya, wara’nya dan kebersihan jiwanya. Seorang ulama yang amatlah sukar ditemui. Ada juga riwayat yang mengatakan bahawa keengganan beliau untuk makan buah-buahan di Damsyik itu bukan hanya khuatir akan mengantuk tetapi kerana buah-buahan di Damsyik dikala itu terlalu banyak mengandungi syubhat.

Tiga kualiti yang dimilikinya menyebabkan Imam Nawawi menjadi ulama rujukan ketika itu, keilmuan tinggi dan kesediaan menyampaikannya, tidak cenderung dengan hal-hal keduniaan, dan sentiasa mengamalkan yang makruf dan mencegah kemungkaran.

Murid-Murid Beliau

Di antara murid-murid beliau ialah Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari, Ahmad bin Farah al-Isybili, Ali bin Ibrahim Ibnul Atthar, Syamsuddin bin Naqib, Syamsuddin bin Ja’wan dan yang lainnya.

Di Antara Keadaan-Keadaan Beliau

Ibnu Atthar berkata, “Guru kami an-Nawawi menceritakan kepadaku bahawa beliau tidak pernah sama sekali menyia-nyiakan waktu, tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan di jalan pun beliau terus dalam menelaah dan menghafal.”

Rasyid bin Muallim berkata, “Syeikh Muhyiddin an-Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit dalam makan dan minumnya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah-buahan dan mentimun kerana takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur, beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur.

Fatwa Imam Nawawi Yang Menggemparkan

Menurut riwayat bahawa apabila baginda Sultan al-Malik al-Zahir telah mengadakan persiapan perang untuk memerangi orang-orang Tatar (Monggol) lalu digunakanlah fatwa ulama yang mengharuskan mengambil harta rakyat untuk kepentingan perang melawan musuh. Ulama fiqh Syria telah menulis menerangkan fatwa tersebut, tetapi baginda belum merasa senang hati kalau imam Nawawi tidak memberi fatwanya. Lalu baginda bertitah “Masih adakah lagi orang lain.” “Masih ada, Syeikh Muhyiddin an-Nawawi,” demikian jawapan yang disampaikan kepada baginda.

Kemudian baginda menjemput Imam Nawawi dan meminta beliau memberi fatwanya bersama ulama fiqh mengenai pengambilan harta rakyat untuk peperangan. Beliau berterus terang tidak mahu memberi fatwanya dan enggan. Baginda bertanya: “Apakah sebabnya kamu enggan?” Lalu beliau memberi penjelasan mengapa beliau terpaksa menerangkan sikapnya dan keenggannya memfatwakan sama seperti para ulama.

Beliau dalam penjelasan kepada baginda menerangkan seperti berikut:

“Ampun Tuanku! Adalah patik sememangnya mengetahui dengan sesungguhnya bahwasanya tuanku adalah dahulunya seorang tawanan tidak ada sebarang harta benda. Tetapi pertolongan Allah telah dilimpahkan kurnianya kepada tuanku dengan dijadikan tuanku seorang raja. Ampun Tuanku! Adalah patik telah mendengar bahawanya tuanku ada memiliki seribu orang hamab tiap-tiap seorang ada mempunyai beberapa ketul emas. Manakala dua ratus orang khadam wanita milik tunaku, masing-masing mempunyai perhiasan yang bernilai. Andaikata tuanku sendirian membelanjakan kesemua itu untuk keperluan pernag sehingga mereka tidak lagi mempunyai barang-barang itu, maka patik bersedia memberi fatwa untuk membenarkan tuanku mengambil harta rakyat.”

Kesimpulannya, beliau berfatwa tidak membenarkan baginda mengambil harta rakyat selama kekayaannya sendiri masih dapat dipergunakan. Baginda al-Malik al-Zahir murka kepadanya kerana fatwanya yang amat menggemparkan sehingga baginda mengeluarkan perintah supaya beliau segera keluar dari Damsyik. Imam Nawawi terima saja perintah pengusirannya itu dengan nada yang tenang. Lalu beliau pun keluar ke Nawa. Para ulama Syria telah berusaha menjemput beliau balik semula ke Damsyik, tetapi beliau enggan dengan berkata: “Saya tidak akan balik ke Damsyik selama baginda masih berkuasa.”

Beliau bukanlah seorang ulama yang mencari kebenaran untuk dirinya sahaja, beliau hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menjual ilmu yang dimiliki dengan harta benda dunia. Beliau mencurahkan ilmu kepada masyarakat umat. Beliau memimpin umat bukan umat yang memimpin beliau. Mengeluarkan fatwa tanpa memandang sesiapa, walaupun fatwanya itu meyusahkan kedudukannya. Inilah contoh ulama pewaris nabi (warisatul anbiya).

Karya-Karya Beliau

Di antara tulisan-tulisan beliau dalam bidang ilmu hadis ialah Syarah Sahih Muslim, Al-Adzkar, Arbain, Syarah Sahih Bukhari, Syarah Sunan Abi Daud dan yang terkenal, Riyadus Shalihin.

Di antara tulisan-tulisan beliau dalam bidang fiqh ialah Raudhatu Thalibin, al-Umdah fi Tashhihi Tanbih dan Majmu Syarah Muhadzdzab.

Di antara tulisan-tulisan beliau dalam bidang ilmu al-Quran ialah at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran.

Wafat Beliau

Malang sekali insan yang cukup istimewa ini lebih disayangi Penciptanya. Selepas mengabdikan dirinya selama 28 tahun kepada ilmu, khususnya di Damsyik, Imam Nawawi kembali ke kampungnya di Nawa. Beliau kemudian jatuh sakit dan wafat pada 24 Rejab 676H dalam usia 45 tahun dan dikuburkan di Nawa, setelah sekian lama beliau hidup dengan membujang tidak beristeri di tengah-tengah suasana masyarakat Damsyik dan telah berjaya menyumbangkan tenaga fikiran dan ilmunya kepada Islam dan umatnya.

Namun sehingga hari ini, Imam Nawawi seolah-olah masih hidup, hasil karyanya yang tidak ternilai masih menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia. Semoga Allah meredhai dan menempatkan beliau dalam keluasan jannahNya.

Susunan:
M.A.Uswah,

Sandakan,
12 Oktober 2008.

Rujukan:
- Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyyah tulisan Abu Aisyah Arif Fathul Ulum, terbitan Media Tarbiyah, Bogor, Indonesia, cetakan pertama Januari 2006.
- Majalah Al-Islam, bulan April 2007.
- Hadis Empat Puluh terbitan Dewan Pustaka Fajar.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan